...Meniti Tangga Dakwah......

Menuju era baru dalam dakwah...

ANDAI AKU MENJADI MURSYID 'AMM... Monday, December 26, 2005

Imajinasiku menerawang ke mesir era tahun 1950-an.
Saat itu Jamaah Al Ikhwan Al Muslimun masih belum mendapatkan mursyid baru untuk menggantikan Hasan AlBanna yang terbunuh bulan Februari 1949. Terjadilah perselisihan tentang siapa yang akan menggantikan posisi Al Banna. Kandidat yang waktu itu muncul ialah Syaikh Shalih Asymawi yang waktu itu menjabat sebagai wakil pimpinan jamaah, lalu ada Abdurrahman AlBanna saudara kandung Hasan Al Banna yang sangat dihormati, ada Abdul Halim Abidin yang menjabat sebagai sekretaris jamaah yang dikenal cerdas, dinamis, dan orator yang memukau. Ada pula Ahmad Hasan Al Baqury, Seorang syaikh Al Azhar yang dikenal dengan kecerdasan dan pengetahuan yang mendalam dan gaya bicaranya yang sastrawi. Semua itu adalah nominator-nominator Mursyid 'Amm. Untuk memilih calon tersebut terkadang terjadi perdebatan yang sengit, tapi kadang berjalan normal.

Akhirnya pada Desember 1950 terpilihlah aku menjadi mursyid yang kedua. Ya, aku terpilih sebagai mursyid 'amm menggantikan Al Banna. Lho kok aku yang dipilih? Menurut kalangan Majlis Tertinggi Ikhwan, pengangkatanku ini memiliki tiga pertimbangan utama. Pertama, aku dianggap figur akomodatif dan dinilai sebagai langkah kompromi terhadap pemerintah sehingga mengendurkan tekanan terhadap Ikhwan. Kedua, aku sebagai tokoh hukum yang disegani sehingga diharapkan mampu melakukan pembelaan terhadap para aktivis Ikhwan yang banyak dipenjara dan dalam proses peradilan. Ketiga, aku dinilai sebagai figur pemersatu yang bisa diterima banyak fihak. Selain itu mereka juga menilaiku sebagai sosok yang disiplin, berdedikasi tinggi, dan bersikap berani dan tegas dalam mengambil keputusan.

Pada awalnya aku menolak jabatan itu, karena merasa tidak mampu mengemban tugas berat tersebut. Dan aku juga bukan dari kalangan dekat imam mu'asis seperti halnya calon lainnya. Namun karena dukungan cukup kuat dari berbagai cabang ikhwan, aku akhirnya menerima jabatan ini.

Memang tidak gampang menggantikan posisi Al Banna di hati anggota Ikhwan. Seperti yang diungkapkan Khamis Hamdah,"Ikhwanul Muslimin dididik oleh Al Banna dan dialah Sang guru (Murobbi). Siapapun yang menggantikannya, harus mampu menggantikan perannya". Tentu ini bukan tuntutan yang mudah untuk dipenuhi.

Terbukti, sejenak setelah pengangkatanku, muncullah friksi yang mulai menggoyang kepemimpinanku. Mereka memandang pengangkatanku kontroversial, karena belum memenuhi persyaratan administratif yaitu masa keanggotaan di lajnah ta'sisiyah sekurang-kurangnya lima tahun. Aku juga dipandang kontroversial karena mengangkat mereka-mereka yang punya gelar ilmiah dalam bidang keduniaan menjadi angggota Maktab Irsyad. Tekanan lain muncul dari Nizhom Khos (NK) yang khawatir aku akan segera membubarkan organisasi khusus ini, atau merestrukturisasi karena aku mulai melihat adanya beberapa tindakan nizhom khos yang keliru.

Puncak konflik itu terjadi ketika 71 anggota Majlis Tertinggi Ikhwan menyampaikan mosi tidak percaya dan menuntut empat hal: Pertama, pembubaran Maktab irsyad, kedua, pembubaran semua cabang Ikhwan yang didirikan tiga tahun terakhir, ketiga pembatalan semua amandemen terakhir terhadap konstitusi Ikhwan dan keempat pembatalan tindakan terhadap para oposan. Saat itu beredar selebaran gelap yang ditandatangani oleh "Gerakan Ikhwan Merdeka" dan "Para pendukung Hasan Al Banna" yang disokong oleh Jamal Abdul Naseer. Mereka menuntutku mundur dari jabatan itu.

Aku harus menjawab tuduhan dan tuntutan itu dengan langkah pemecatan terhadap beberapa anggota--termasuk anggota lajnah ta'sis--setelah aku mendapatkan dukungan dari mayoritas anggota Maktab Irsyad. Aku memecat mereka bukan karena meragukan agama dan keluhuran akhlaq mereka. Mereka dipecat karena melanggar konstitusi jamaah. Kondisi seperti ini tidak akan membawa keuntungan bagi setiap jamaah, partai ataupun lembaga.

Suatu waktu, pimpinan Nizhom Khos, Abdurrahman Assindi beserta para anggota yang oposan pergi kerumahku, mereka mencabut kabel telepon rumahku dan memintaku turun dari jabatan Mursyid. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumahku dan menuju kantor Maktab Irsyad. Mereka mendudukinya. Mereka menutup dan mengunci kantor dengan rantai besi. Saat itu ust. Umar Tilmitsani mencoba mengatasi kemelut ini, dibantu ust. Abdul Aziz Jalal dilakukan perundingan via telepon. Barulah ketika menjelang subuh assindi beserta anak buahnya bersedia meningglkan kantor. Hampir saja terjadi pertikaian, karena ternyata di masjid Hasan Sulthon berkumpul sekelompok anggota Ikhwan yang bermaksud mengusir orang-orang Assindi yang sedang menduduki kantor. Tetapi Allah tidak menghendaki benturan sesama anggota Ikhwan. Setelah Assindi dan anak buahnya keluar dan meninggalkan Maktab Irsyad, barulah kelompok yang berkumpul di Masjid Hasan Sulthan ini tiba di kantor. Bentrokan pun tidak terjadi dan peristiwa itu bisa selesai dengan cara yang mudah.

Permasalahan Nizhom khos adalah batu sandungan dalam kepemimpinanku yang nyaris menenggelamkan jamaah ini. sebenarnya pembentukan NK ini memeiliki tujuan mulia. Tandzim ini dibentuk pada masa Muryid pertama sebagai landasan gagasan jihad melawan imperialisme dan despotisme pada dataran opersional. Melalui struktur yang rapi disiapkan sekelompok Ikhwan dengan pendidikan ideologis, politik dan militer, agar mereka mampu berjihad melawan musuh. Namun terjadi banayk penyimpangan pada kepemimpinan Assindi. Ia mulai berani mengambil kebijakan sendiri tanpa merujuk pada Dewan Pimpinan dan Mursyid 'Amm. Sejumlah tuduhan tindak kekerasan kemudian dialamatkan ke NK. Ishak Mussa Al Husaini mengatakan;" NK ini seperti serikat dalam serikat." Biro ini lebih sering mencapai tujuan dengan kekerasan ketimbang cara yang lebih beradab. Ia tampak bertentangan dengan berbagai ucapan tokoh ikhwan sendiri. Yang jelas, semenjak Tragedi Al mansyiah yang dialamatkan tuduhannya pada NK , biro ini telah ditutup untuk selama - lamanya.

Mungkin banyak yang terheran dan bertanya, kenapa jama'ah dakwah yang memiliki kekuatan manhaj dan matanah junud (Soliditas anggota) ini harus menanggung beban qodloya yang yang sangat berat. Bukan hanya tekanan eksternal yang begitu kuat, tapi juga problem internal yang cukup dahsyat. Aku masih terkenang saat Hasan Al Baquri akhirnya harus insilakh dari jamaah ini, ia lebih memilih menjadi menteri waqaf dalam kabinet Naser daripada patuh terhadap keputusan jamaah. Dalam Ikhwan, Al Baquri bukanlah kader biasa. Ia adalah murid langsung Hasan Al Banna. Al Baquri telah terlibat dalam halaqoh-halaqoh awal Ikhwan di Mesir. Ia memilih terlibat dengan Ikhwan yang saat itu masih kelompok dakwah kecil. Padahal ia adalah salah satu syaikh Al Azhar. Ia pun seorang penyair terkenal di Mesir. Ia juga terkenal rendah hati. Ketika kepemimpinan Ikhwan vakum sepeniggal Al Banna, Al Baquri adalah salah satu kandidat kuat yang dicalonkan, tetapi lelaki itu dengan ta'dzim memilih menolak mencalonkan diri dan menolak untuk dipilih kalaupun diminta. Sungguh ia adalah lelaki yang begitu rendah hati.

Oktober 1951, revolusi meledak. Sang pimpinan revolusi, Jamal Abdun Naser menjadi presiden. Jamal sendiri mengakui peran Ikhwan dalam revolusi itu sangat besar sekali, maka ia meminta Ikhwan untuk mendukungnya di pemerintahan. Selain Hasan Al Badhowi yang ia tunjuk secara khusus, ia minta dua orang anggota Ikhwan untuk menjadi menteri. Sebagai mursyid, aku menunjuk dua Ikhwan terbaik: Shalih Asmawi dan Abdul Hakim Abidin. Dua orang kuat yang pernah dicalonkan menjadi Mursyid 'Amm. Aku membutuhkan mereka untuk mengimbangi Abdun Naser. Mengimbangi? ya, mengimbangi Abdun Naser! Bashirohku mengatakan ada sesuatu yang salah dan berbahaya pada Abdun Naser.

Abdun Naser masuk dalam kelompok khusus dalam Janah Asykari yang dikenal dengan Nizhom Khos yang anggotanya di bai'at langsung oleh Al Banna. Janah Asykari dibentuk untuk melawan Inggris dan mengembalikan Palestina dalam pangkuan Islam. Tetapi..., sang pelatih--Abdun Naser--ternyata berfikir berbeda. Mimpi kecilnya untuk dapat menjadi pemimpin Mesir telah mengubah amanah di Janah Askary menjadi ambisi. Mengubah Nizhom Khos dari berloyalitas pada jama'ah menjadi kelompok yang ber-wala kepadanya. Untuk mewujudkan mimpimya: Mengambil Alih Mesir. Itulah yang kubaca pada Abdun Naser, maka kupilihlah Shalih Asmawi dan Abdul Hakim Abidin untuk mengimbanginya. Dan ternyata Abdun Naser menolak mereka. Ia menginginkan orang-orang yang mengikutinya, bukan yang mengaturnya. Maka ia menunjuk sang lelaki itu, Hasan Al Baquri, menjadi menteri waqaf. Jama'ah meminta Al Baquri menolak. Namun Al Baquri bersikeras menerimanya, akhirnya kuanggukan kepala dan membiarkannya pergi. Sekaligus mengijinkannya keluar dari Ikhwanul Muslimin.

Sejarah mencatat, dari empat tribulasi yang dialami Ikhwan, tiga diantaranya terjadi pada masa kepemimpinanku. Dan selama 23 tahun aku memimpin Ikhwan, 18 tahun aku lewatkan di penjara. Dalam penjara berbagai peristiwa teror mental dan fisik selalu menyertaiku, sampai aku berpulang menghadap Rabb ku pada 11 November 1973...................
---------------------------------------------------------------------------
Kututup buku yang berjudul "Al Ikhwan Al Muslimun: Bersama Mursyid 'Amm Kedua" itu. Aku tak sanggup lagi menjadi dirinya. Saat ini aku membayangkan wajah-wajah temanku yang lelah memikul amanah dakwah. Aku terbayang wajah Ahmad yang berupaya tegar memimpin UKMI dan SALAM. Aku terbayang wajah Arief yang kusut mengelola komisariat. Aku terbayang wajah Dodo yang banting tulang mempertahankan eksistensi KAMDA. Aku terbayang wajah Ust. Hendro yang berjuang sendirian di parlemen dan harus mengelola dakwah di Banyumas selaku ketua DPD. Aku juga terbayang Ust. Tifatul yang dengan senyum tulusnya berjuang keras mengokohkan dakwah ini. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan pada kalian. Semoga Amal baikmu adalah keikhlasan. Semoga kelelahanmu adalan jalan menuju Jannah yang kita cita-cita kan. Semoga Dakwah ini kokoh hingga akhir zaman. Dan... semoga kalian juga mendo'akanku untuk kebaikan. Amiiin.

(Refleksi atas buku "Al Ikhwan Al Muslimun: Bersama Mursyid 'Amm Kedua" karya Ust. Cahyadi Takariawan,S. apt. Sebagian bahan diambil dari Materi Diskusi yang ditulis oleh ust. Imron Rosyadi, ST. pada sebuah Daurah.)

0 comments: