

...Meniti Tangga Dakwah......
Menuju era baru dalam dakwah...
| ANTARA YUSUF DAN AKU (Komentar untuk Outsider Loyal) | Monday, December 19, 2005 |
|
Filed under:
|
|
Bismillahirahmanirrohim
Aku mengenal yusuf ketika dia tiba-tiba terpilih menjadi ketua KAMMI komisariat soedirman. Ya, tiba-tiba saja ia muncul. karena seminggu sebelumnya aku mengikuti Musyawarah Komisariat (Muskom) bukan dia yang terpilih jadi ketua, tapi Fuad. Ternyata ada kesalahan prosedural. sehingga pengangkatan Fuad jadi ketua komisariat BATAL DEMI MANHAJ. dalam juklak komisariat memang disebutkan ketua komisariat minimal AB 2. Fuad masih AB satu,dan belum lama masuk KAMMI, sehingga diputuskan untuk Muskom luar biasa untuk mengganti ketua yang sesuai manhaj. Terpilihlah Yusuf.
Setelah itu, tidak banyak interaksi antara aku dan yusuf, saat itu aku memang belum jadi pengurus komisariat dan sibuk ngurus UKI (unit kerohanian Islam)fak biologi dan takmir masjid fatimatuzzahra. Aku mengenal yusuf lebih jauh ketika harus pindah ke sekre, karena aku sudah tidak nyaman tinggal di masjid.Diintrik terus sih. saat itu yusuf sebagai kepala rumah tangga Madani,nama sekre sekaligus kos anak KAMMI. saat itulah aku menemukan sosok yusuf yang sebenarnya.
Karakter kuat yang aku temukan adalah INDEPENDENT, yusuf punya mainstream berfikir yang mandiri, tidak mudah diintervensi, bahkan oleh Murobbinya sendiri. Dalam sejarah tarbiyah purwokerto, mungkin hanya Yusuf yang berani "memecat" MR nya sendiri, karena tidak sesuai dengan harapan-harapan yusuf dalam mentarbiyah muttarobi.
Independensi yusuf semakin kental ketika isu pemilu 2004 mulai di gulirkan. Banyak diantara aktivis tarbiyah yang sudah mensosialisasikan partainya,PK yang kemudian menjadi PKS. Saat itulah Yusuf memproklamirkan diri, bahwa ia adalah kader tarbiyah, tetapi BUKAN kader PKS.
Yusuf ternyata punya parameter sendiri untuk menilai sebuah partai, bahwa partai politik itu harus diisi oleh orang-orang yang capable dalam politik dan cerdas dalam menyikapi isu-isu nasional atau lokal. Dan itulah yang menurut Yusuf tidak ada di PKS. PKS itu: "isine mung ustadz tok", begitu kata Yusuf.
Ketika isu musyarokah digulirkan PKS, yang berdampak pada melonjaknya mobilitas vertikal kader di wilayah birokrasi, itu yang menjadi ladang empuk bagi yusuf untuk mengkritik PKS habis-habisan."Apa bedanya PKS dengan partai lainnya?" ujar Yusuf. Apalagi ada beberapa kasus yang menimpa kader PKS yang berada di eksekutif atau legislatif terkait tuduhan KKN.
Tidak sampai disini,indepedensi yusuf merambah pada hal-hal yang menjadi fatsoen tarbiyah. Yusuf penentang keras intervensi MR dalam hal pernikahan kader. "Mau nikah aja kok dipersulit", begitu katanya."Dulu pas zaman Rosul,ngga ada ceritanya nikah lewat MR, klo mo nikah langsung aja ketemu calon mertua" demikian argumen yusuf.
Yusuf juga mengkritik DPP yang menganjuran kader-kader untuk masuk pada level birokrasi dengan mengikuti CPNS,"masalah pekerjaan, biarlah kader-kader yang memilihnya, ngga usah diarahkan harus menjadi Pegawai Negeri", kata yusuf.
Yusuf pernah cerita, walaupun ia sering melontarkan kritik terhadap PKS, dan tidak mau disebut kader PKS, tapi ia masih tetap kader tarbiyah.Ya, begitulah yusuf. Dia memang masih berharap liqo nya tetap jalan, meski hampir setahun ini,ketika yusuf harus cuti dan bekerja di jakarta, ia tidak liqo karena koordinasi MR nya yang kurang intens dengan MR Yusuf di jakarta. Yusuf merasa diterlantarkan.
Selama ini Yusuf memang mengambil positioning sebagai "orang luar" PKS, tetapi ia ingin tetap sebagai kader tarbiyah. Dan ia ingin konsisten mengambil jalan ini. Kalau Hasan Al Banna pernah berkata: boleh jadi ada seseorang atau sekelompok orang yang mengaku bagian dari jamaah kita, tetapi sesungguhnya ia bukan anggota jamaah. Tetapi ada juga seseorang atau sekelompok orang yang itu berada di luar jamaah kita, tapi sesungguhnya ia bagian dari jamaah kita. Aku tidak tahu, yusuf masuk kategori mana?
yang pertama atau yang kedua?. Untuknya aku membuat predikat khusus,Outsider Loyal. ya, karena dia masih Loyal terhadap tarbiyah, tapi tidak untuk PKS.
Aku sendiri punya komentar khusus tentang Yusuf. aku menduga ada beberapa hal yang MUNGKIN masih belum difahami yusuf,
Pertama, logika keta'atan terhadap syuro
sebagaimana diketahui, berdirinya wajihah partai di indonesia merupakan hasil syuro para mu'asis dakwah berdasarkan hasil poling seluruh kader tarbiyah saat itu. Hasil poling menunjukkan 60 % lebih setuju berdirinya partai, sisanya tidak setuju dan abstain,jadi antara yang setuju dan yang tidak, bedanya tipis sekali. Majlis Syuro akhirnya memutuskan berdirinya partai dakwah ini. Namun sesuai dengan kaidah keta'atan terhadap syuro, ketika keputusan sudah diambil maka seluruh anggota harus menghormati dan menta'ati keputusan tersebut. Konon kabarnya, Ust. Anis Matta adalah termasuk orang yang tidak setuju berdirinya wajihah partai, toh sampai sekarang beliau masih menjadi pengurus pusat. Aku ngga tahu, apakah Yusuf saat itu ikut poling atau tidak, karena yusuf sendiri sudah tarbiyah sejak SMP,katanya. Tetapi sebenarnya, ikut poling atau tidak, kalau memang dia kader tarbiyah, harusnya ta'at terhadap keputusan majlis syuro. Itu menurutku.
Kedua, kaidah Al-hizbu huwal jama'ah, wal jama'atu hiyal hizb
Bahwa partai adalah jama'ah dan jama'ah adalah partai. Ketika belum berdiri partai, jama'ah tarbiyah mengorganisir dirinya melalui struktur (tandzim) yang relatif tertutup. Masalah keanggotaan, struktur organisasi, agenda dakwah dll hampir semua bersifat ekslusive. Ketika partai berdiri, maka seluruh flatform jama'ah ditransformasikan dalam wadah partai. Artinya, kalau kita bicara tentang jama'ah tarbiyah di indonesia, ya tidak lain adalah PKS. Siapa PKS? ya.. jama'ah tarbiyah di indonesia. Pada kondisi ini, jama'ah sudah bersifat lebih terbuka, keanggotaanya, struktur organisasinya dan agenda dakwahnya. Sehingga, agak sulit memahami jalan fikiran Yusuf ketika ia mengatakan 'aku kader tarbiyah, tapi bukan kader PKS'.
Jama'ah tarbiyah membuat partai, itu keniscayaan. Adapun partainya belum sesuai harapan itu urusan lain. Justru kadernya yang harus memperbaikinya.
Tentang nikah via MR, aku punya pandangan seperti ini,
bahwa dalam marotibul amal, setelah bina'-syakhsiyah islamiyah, maka berikutnya adalah binaul 'usrah, membangun keluarga. membangun dalam arti menyiapkan dan mendidik individu agar mampu mengelola keluarga dengan prinsip-prinsip islam. Pernikahan bagi kader dakwah bukan hanya sekedar ibadah, tapi strategi optimalisasi dakwah. Jadi, nikah bagi kader itu harus bersifat strategis. Seperti halnya rosul dan para sahabat dulu juga begitu. Rosulullah menikahi istri-istrinya selalu ada pertimbangan strategis bagi kemashlahatan dakwah. Pelajaran syiroh ini diinterpretasikan oleh jamaah dengan menyusun manhaj munakahat. Perlu difahami bahwa manhaj munakahat ini tidak berisi hal2 yg wajib, makruh, atau sunnah. karena itu semua sudah diatur oleh syar'i. Manhaj munakahat ini hanya untuk memastikan bahwa pernikahan kader ssudah sesuai syar'i dan strategis bagi dakwah. Analoginya begini, secara syar'i nikah itu sudah sah dengan menghadirkan saksi, wali dan ijab qobul. Tapi selaku warganegara yang baik, kita mendaftarkan pernikahan di KUA, lalu ada petugas yang datang mencatanya. bagaiamana kalau kita tidak mendaftarkan ke KUA?, ya tetap sah secara syar'i, tidak dosa. hanya kita sudah mengabaikan kewajiban kita selaku warga negara. Menurutku, sebagai gerakan yang punya tahap-tahapan dalam manhajnya, manajemen munakahat bagi jamaah adalah sebuah keniscayaan, bagaimana jamaah bisa mengukur: sejauh mana tahapan binaul usroh sudah tercapai? kalau tidak ada perhatian terhadap hal ini. Perhatian jamaah terhadap keluarga, sama pentingnya seperti pada tahap pembentukan individu atau pengelolaan negara, kelak. Bayangkan kalau jamaah tidak mengaturnya, maka percuma saja manhaj gerakan yang telah disusun. Kader-kader nikah sak karepe dhewek tanpa mempertimbangkan aspek mashlahat dan strategis bagi dakwah.
(Ini pendapatku lho, walaupun waku sendiri belum bisa menjamin, apakah nanti pernikahanku bisa strategis atau nggak? he...he..he...setidaknya aku akan mengupayakanya:)
Implementasi manhaj munakahat ini memang beragam di setiap wilayah. Ada yang harus membuat struktur khusus yang menangani hal ini (tandzim munakahat),semacam BKKBS, ada juga yang tidak. Menurut yusuf, di mesir aja ngga ada aturan mengenai munakahat. Menurutku ada beberapa pertimbangan kondisional yang mengharuskan struktur dakwah membuat tandzim munakahat atau tidak, diantaranya: sebarapa banyak kader terbina, seberapa banyak masalah pernikahan kader, sejauhmana pemahaman kader terhadap pernikahan dsb. Semakin banyak kader, semakin kecil masalah pernikahan kader dan semakin faham kader terhadap proses dan urgensi pernikahan,MAKA semakin kecil peran jamaah dalam mengatur proses pernikahan.Namun pada prinsipnya jamaah tetap memberikan perhatian dalam proses ini,setidaknya pelibatan MR dalam proses pernikahan kadernya.Lho kok kenapa MR harus dilibatkan? Sekali lagi, ini untuk memastikan proses pernikahan kader sudah sesuai syar'i dan strategis atau tidak? karena pertimbangan strategis itu tidak bisa subjektif ditentukan oleh kader yang mau nikah saja, jamaah sendiri terkadang punya proyeksi sendiri terhadap karir dakwah kadernya,sehingga ketika kader tersebut menikah, harus dipastikan akan membawa maslahat terhadap karir dakwahnya. Dalam pelaksanaannya aturan ini tidak saklek, masih dimungkinkan adanya negosiasi dan diskusi antara harapan dan keinginan kader dengan MR nya. Bagaimana kalau diabaikan saja peran MR dalam proses ini? secara syar'i nikahnya tetap sah, hanya sebagai kader dia telah mengabaikan kewajibannya terhadap jama'ah. Begitu.
Semua yang telah aku sampaikan di atas, sebenarnya hanya dapat difahami oleh kader yang menyadari konsekuensi kehidupan berjamaah, bahwa ketika kita sudah berkomitmen untuk berjuang bersama dalam satu jamaah, maka ada banyak sisi privacy kita yang akan tereliminir. Jenjang kaderisasi dalam tarbiyah pun senantiasa mempertimbangkan kesanggupan kader untuk berkomitmen dalam jama'ah. Semakin tinggi jenjang kader, maka semakin besar tuntutan jama'ah bagi kader tersebut. Jadi tingginya jenjang kader bukan berarti tingginya kemuliaan. Kalau ada kader yang tidak ingin privacy nya diusik oleh jama'ah, sebaiknya memikir ulang untuk apa dia berjamaah. Seperti halnya sholat, berjamaah itu memang ngga bisa secara leluasa menentukan gerak-gerik kita. Dan tidak ada paksaan untuk masuk jama'ah. Tetapi ingat, sholat berjamaah itu pahalanya lebih besar daripada sholat sendirian. 'Alaikum bil jama'ah. Lalu bagaimana dengan beragam potensi yang dimiliki kader? apakah jama'ah akan mengeliminir juga? tentu tidak, melalui syuro seluruh potensi tersebut akan disinergiskan. walaupun pada akhirnya setelah ada keputusan mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Wallahu a'lamu bishshowab.

© 2008 ...Meniti Tangga Dakwah......
Design by Templates4all
Converted to Blogger Template by BloggerTricks.com
7 comments:
PKS partai yang masih banyak kekurangan di sana sini. Sebagai mahasiswa Ilmu Ekonomi saya masih menilai PKS sebagai partai yang masih gagap dalam menghadapi permasalahan atau isu-isu ekonomi.
Namun bukan berarti kita lantas meninggalkan begitu saja. Apalagi partai ini tidak didirikan oleh "Orang kemarin sore". Yang mendirikan partai ini adalah orang-orang yang komitmen terhadap Islam (Menurut saya, namun Allah yang lebih tahu). Sampai saat ini saya masih Tsiqoh terhadap Ustadz2 di partai.
Jujur saja saya agak kecewa ketika Rama Pratama diamanahi bidang ekonomi karena setahu saya dia lulusan Akuntansi bukan lulusan Ilmu Ekonomi. Namun sekali lagi pilihan untuk berpartai masih menjadi pilihan yang rasional.
Maka saat ini saya berani mengatakan: Saya memang bukan kader PKS, namun saya saat ini mendukung PKS.
economics_of_development@yahoo.com
saya tidak mendukung sepenuhnya Yusuf, tapi juga tidak menolak sepenuhnya.
menurut saya, dengan sekian banyaknya kader yang sudah direngkuh oleh sarana partai, membuat jama'ah menjadi seperti giant.tubuh besar, tapi bajunya tetap dengan ukuran normal. kebesaran ini juga membuat langkah jama'ah menjadi lebih lambat merespon "serangan" dari luar dan dalam.
jika memang untuk beberapa urusan jama'ah sudah keteteran ngurusinnya, mungkin lebih baik main streamnya harus dirubah.
satu yang menjadi konsern dalam kaderisasi adalah masalah pernikahan. saya sepakat untuk tidak lagi jama'ah mengurusi hal ini, tapi lebih diserahkan kepada kader. saya rasa, sibghoh islamiyah yang ditempa dalam media dakwah, bisa dijadikan landasan kuat kader memilih pasangan hidup yang sholeh/sholehah.jadi,untuk masalah yang satu ini,lebih baik, jama'ah melepaskan pernikahan harus lewat MR. setidaknya ini lebih meringankan beban jama'ah. bukan begitu ?
kalau masalah yg bersangkutan dengan nikah via MR (majlis munakahat) di daerahku, banyak kasus yang pada kenyataannya terkesan lamban. hal ini bukan kesalahan tanzim akan tetapi kesalahan porsonalnya. hendaknya yang menjadi mas'ul tidak menunda-nunda masalah ini. karena kalau sampai hal ini terus tertunda di sebabkan oleh mas'ulnya. pernikahan yang kita harapkan sesuai syar'i bisa jadi malah melenceng dari syr'i.karena dari syariat islam sendiri sebenarnya emang gk ada keharusan melalui MR(wasilah)cukup datang menkhitbah via ortu saja itu sudah syar'i. kita tetap menghargai keputusan syuro ttg majlis munakahat sebagai wasilah yang bisa mengontrol berjalannya proses agar tetap di koridor syar'i. yach...cuma harapan buat mas'ul atau mas'uliyah optimalkan kerja antum-antum semua dalam masalah ini.
Akhi bukankah kebaikan yg tidak terorganisir akan d terklahkan oleh kedzaliman yg terorganisisir, jalan Da'wah memang bukan jalan yg bertabur bunga...ada harga yg sangat tinggi..yang tentunya sanggup Allah bayar kemudian, tidak hanya jiwa..bahkan harta..
Sekali lagi itu adalah pilihan. Sebagai muslim kita hanya memiliki dua pilihan... hidup mulia atau mati syahid.
Aku memohon ampun kepada Allah..
PKS memang partai yang masih membutuhkan masukan dan kritik dari segenap muslim, agar ia sungguh-sungguh dapat berjuang dalam koridor AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Beri terus masukan/kritik! Maju terus PKS! Untuk sharing silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
sistem itu dah dibuat seideal mungkin, ketikapun ada kesalahan...maka saya fikir, bukan lah sistem yang salah...tapi personal yang ada dalam sistem tersebut...
saya jadi berfikir ulang ketika seorang ikhwah berkata dalam sebuah forum...."partai untuk dakwah' ataukah 'dakwah untuk partai".. semoga bukan sebuah tanda ketidakfahaman saya akan sebuah amal jama'i...
di manapun hidup manusia selalu beda karakter, tak luput dalam satu jama,ah tarbiyah. MR bukan menjelma jadi Tuhan yang selalu sempurna dan lebih pandai dari mutarobbi, akan tetapi semua lini harus saling mengisi, mengingatkan jika ada kekeliruan dengan cara bil hikmah wa mauidhoh hasanah. negeri ini butuh karakter keras spt cerita yusuf dan karakter lembut spt yg lain. agar ada keseimbangan dunia seperti yin and yan. mengenai pernikahan biarlah setiap orang atau kelompok berproses sesuai keyakinannya dengan catatan tidak kumpul kebo. dan mengenai PKS jangan jadi macan tidur bahkan ompong, mana "amar ma'ruf nahi mungkarmu" jgn hanya bi lisan tapi juga bil hal atau bi yadhihi....bravo PKS-penggembira
Post a Comment