

...Meniti Tangga Dakwah......
Menuju era baru dalam dakwah...
| Kesaksian sang Perantara | Friday, December 23, 2005 |
|
Filed under:
|
|
Hikmah di Balik Kisah
dengan Penceritaan Fiksi
Sedari awal memang aku agak khawatir, ada hal-hal buruk yang akan terjadi di belakang hari menyangkut tindakanku ini, soalnya ini menyangkut hal yang cukup sensitif, yang jika salah sedikit saja akan berakibat fatal. Semua berawal dari hobi baruku itu: chating on YM. Aku berfikir hobiku ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif semisal mencari relasi bisnis, sharing permasalahan, diskusi tematik, atau mengajak orang untuk mengenal lebih jauh tentang Islam.
Sampai suatu malam, ketika aku masuk ke sebuah chanel di YM, ada seseorang yang pv aku. Wah, ada mangsa empuk nih, fikirku saat itu. Dari nick nya aku tau dia seorang wanita....biar gampang sebut saja namanya susan..(bukan nama sebenarnya, tapi mirip...:) ) dia minta ASL ku, namun kutolak untuk sementara, aku pengen ngajak diskusi dulu, ASL bisa belakangan, begitu jawabku. Dia sepakat, lalu kutawarkan pilihan tema diskusi; pacaran menurut islam atau korupsi di Indonesia, sengaja kupilihkan tema ini karena mudah untuk dijadikan bahan nashrul fikroh. Dia memilih tema pertama, dan diskusi pun dimulai. Aku agak heran ketika dipertengahan diskusi aku melihat ada gelagat persamaan pandangan mengenai tema pacaran ini, dia mengatakan:"dalam kamusku ngga ada istilah pacaran". Dia juga mengatakan, pacaran itu boleh kalau sudah nikah. Diskusi pun berakhir dan tanpa kesimpulan. Wong opinine wis podo. Tapi saat itu aku menganggap bahwa lawan bicaraku adalah orang 'ammah (umum) yang bisa kujadikan lahan dakwah, makanya aku masukkan nick nya ke dalam group 'lahan dakwah' di YM ku.
Lalu dia menanyakan identitasku. Kujawab aja: "Aku Ikhwan!". Kujelaskan definisi ikhwan dan akhwat ketika dia menanyakannya. Sampai disini aku masih menganggap bahwa dia adalah orang biasa saja. Obrolan pun terus mengalir, dia cerita tentang adiknya yang mau 'melangkahinya', ya, adiknya mau nikah sebentar lagi, dan ini cukup membuatnya resah, bukan karena dilangkahinya, tapi omongan tetangga dan mitos itu yang bikin galau hatinya."Bener ga sih, kalau orang yang dilangkahi itu bakal jauh jodohnya?" begitu tanyanya.
Kujawab dengan teori ikhtiar dan ia pun dapat menerimanya, sampai akhirnya:" ya udah, kamu nikah aja duluan, repot amat!" begitu kataku."yee...kan belum ada calonnya, mo nikah gmn?" jawabnya.
DAN DARI SINILAH KISAH ITU DIMULAI.........
Saat itu aku teringat temanku yang katanya bulan depan punya azzam mau ta'aruf, maka....: "ada tuh temanku" tawarku saat itu.
"Siapa?".
"Teman..."
"Dimana dia sekarang?"
"jauh sih, di purwokerto"
"Mmhhh..ada biodatanya?
"Nanti deh...aku kirim..."
Obrolan pun ditutup dengan kesepakatan aku akan ngasih biodata temanku itu. Tapi....seriuskah aku? Terus terang aku sendiri meragukannya, karena aku juga meragukan keseriusan dia. Masa' mo nyari jodoh lewat internet? Aku sering diingatkan bahwa di internet itu sukar dibedakan antara orang serius atau tidak, antara orang baik atau orang jahat, namanya juga dunia maya, susah mengidentifikasinya. Jangan-jangan temen ngobrolku itu sebenarnya cowok yang lagi ngerjain aku...? Siapa tahu...
Esoknya aku cerita ke temenku yang mau ta' minta biodatanya..sebut saja Sanusi (bukan nama sebenarnya)
"San...ada yang minta dicariin suami...kamu mau nggak?"
"Hah,..siapa?"
"Teman cetingku.....kayaknya dia setengah akhwat...."
"Setengah akhwat....?....maksude...?"
"ya...katanya dia dulu pernah gaul sama anak-anak rohis...cuma sekarang ngga lagi...."
"Halah..., paling juga iseng..."
"Nggak, kayanya dia serius lho..."
"Ohya? trus....?"
"Kamu punya biodata kan?"
"Ada.., tapi biar gampang suruh buka blog-ku aja...disana kan ada profilku.."
"Oke deh...."
------------------------------------------------------------------------------------------
Singkat cerita....aku pun ngasih alamat blog sanusi ke susan, dan susan pun kemudian ngasih alamat friendster (FS) nya. Perlu dicatat saudara-saudara.......sampai disini sebenarnya aku masih menganggap ini nggak serius. Aku berfikir paling juga nanti ngga jadi. Meski ada juga terlintas fikiran, "Tapi kalo jadi gimana ya?". Nah akhirnya aku dan sanusi coba buka friendster nya susan, aku mulai penasaran siapa sebenarnya susan. Susah payah aku coba buka FS nya dia...ngga bisa kebuka juga. Aku coba kontak susan....nanyain address FS nya bener ngga. Dia jawab....bener ko'. Aku coba sekali lagi....tetep ngga bisa juga. Waduh gimana ya? kayaknya emang sanusi dan susan nggak jodoh kali ya. Sampai akhirnya kugunakan ilmu trial and error ku (dengan ilmu ini biasanya aku bisa bongkar password seseorang....he...he...meski sering ngga berhasilnya). Aku coba modifikasi sedikit alamat FS Susan. Eh......TERNYATA.......BISA!!!!. FS mulai loading.....dan.......jreng...muncul foto seorang wanita berjilbab besar..... beserta profilnya... Hah...Dia Seorang Akhwat beneran..!!! Lalu aku coba baca sekilas profilnya: dia seorang sekretaris di sebuah perusahaan garment, pernah tinggal di Solo, Wonogiri, Lampung dan sekarang di Jakarta. Satu lagi....dia suka track-trackan...(Kebut-kebutan di jalan raya pake motor). Kalau aku cermati profilnya dan bahasa yang digunakan pas ceting....aku jadi berfikir...paling ini akhwat kesing-nya doang. Makanya ngga salah kalo aku bilang dia setengah akhwat. Sanusi yang sedari tadi asyik cetingan di mIRC pun kuberi tahu bahwa FS susan sudah bisa kebuka, dia pun segera mencermati profilnya....
"Gimana San...??" tanyaku pada Sanusi.
"Ah...kayaknya ane ngga tertarik....biasa aja profilnya...."
"Masa' sih...?"
"Iya....ngga ada yang istimewa, tapi yaa.....ane sih menghargai ikhtiarnya...".
_________________________________________
Mengenai ketidaktertarikan sanusi pada susan sebenarnya sanusi sendiri sudah menyampaikan langsung pada susan....sampai suatu hari....Tuit...tuit...tuitt....ada bunyi sms masuk di hp-ku.... dari susan. Setelah kubuka sms nya....... aku kaget campur deg-degan...ternyata dia....
Dalam sms nya Susan mengabarkan, prihal prosesnya dengan sanusi itu sudah dikonsultasikan sama MUROBBIYAHNYA...dan MR nya itu menyarankan agar Proses yang mulia ini ditempuh sesuai prosedur yang benar. GUBRAKKK!! berarti dia anak tarbiyah juga dong!!
Kenapa susan ngga bilang dari dulu ya? kenapa dulu dia nanya-nanya apa itu ikhwan, apa itu akhwat..?? kenapa dulu pas aku iseng nawarin sanusi kok dia mau?
Sampai disini kekhawatiranku bertambah. Aku baru sadar, selama ini aku telah bermain api. Kalo aku ngga bisa menjinakkanya aku bisa kebakar nih! Apalagi MRnya susan minta no HP MRnya sanusi...wah....tambah berabe...
Aku dan sanusi mengadakan syuro terbatas membahas hal ini. Sanusi sendiri masih meragukan keseriusan Susan . Aku dan sanusi punya pandangan sama, kalau susan anak tarbiyah, kenapa susan mau menjalani proses ini? maksudnya ta'aruf lewat internet. kenapa baru cerita ke MR nya belakangan ini? Ketika hal ini kutanyakan pada Susan, dia menjawab: "Mungkin ini rencana Allah....". Hhmmm... jawaban yang betul sekali, tapi kurang tepat menurutku.
Permasalahan semakin ruwet, ketika Sanusi akhirnya berterus terang padaku, bahwa sebenarnya ia sudah merencanakan pernikahannya sejak lebih setaun yg lalu, bahkan ia telah merumuskan kriteria calon istri idamannya. Dan lebih hebat lagi..., dia sudah menginventarisir siapa saja yang masuk kriterianya. Dari yang nomor urut 1 sampai 10. Nah lho...! Bulan depan Sanusi bertekad merealisasikan Planing nya itu. Sampai kemudian hadirlah nama Susan. Inilah yang membuat Sanusi sedikit bimbang. Ia ingin menghargai ikhtiar yang dilakukan Susan, tapi ia sendiri sudah mantap dengan rencana bulan depannya.
Satu hari, Sanusi tiba-tiba mengajakku menemui MR nya. Ini terkait rencana bulan depan . Ia ceritakan semua rencananya pada Sang MR, termasuk hadirnya Susan. Aku masih ingat, reaksi pertama yang kulihat adalah keterkejutan di wajah Sang MR, lalu panjang lebar ia memaparkan tentang "tantangan rumah tangga" bagi seorang kader, bahwa persiapan itu bukan hanya niat yang menggebu-gebu atau azzam yang kuat. Pertimbangan yang bersifat realistis juga perlu difikirkan. Sanusi kena skak-ster ketika ditanya tentang kuliahnya yang belum rampung, tentang beban biaya yang harus ditanggung........"Sudahlah...,antum selesaikan aja dulu kuliahnya..." begitu kata Sang MR. Tapi dasar Sanusi yang berjiwa pemberontak, dia mencoba merasionalisasi keinginannya itu. Sampai akhirnya sang MR memberikan alternatif: Sanusi ditugaskan untuk "Studi Banding" ke teman-teman Sanusi yang masuk kategori praktisi nikah tapi masih kuliah dan minta nasihat para ustadz terhadap rencananya itu. Sanusi setuju. Sementara tentang Susan, sang MR dengan tegas berkata: Close!! (Duh...!!)
Susan sendiri sedang memantapkan hatinya dengan Istikhoroh, sampai ia mendapatkan keyakinan bahwa ia MANTAP UNTUK MELANGKAH. Lain halnya dengan Sanusi yang tampak masih diliputi bimbang, Istikhoroh yang ia lakukan berujung pada kemantapan bahwa ia HARUS MENUNDA RENCANANYA ITU. (Wahh....kok jadi ngga klop yach...!).
Sanusi menyampaikan secara langsung kepada MR Susan prihal saran dari MR Sanusi, dan Sanusi minta proses dengan Susan diakhiri. Beberapa hari berikutnya MR Susan menyampaikan pesan Sanusi pada Susan............
"Apakah kisah Sanusi-Susan akan berakhir sebelum tayang?" pertanyaan bernada pilu itu diajukan Susan padaku beberapa hari kemudian...Aku hanya menjawab "Wallahu A'lam.." seraya kuingatkan kembali kesepakatan awal, bahwa Susan harus sabar kalau seandainya proses ini hasilnya negatif.
Well.....
Inilah rencana Allah...terkadang apa yang kita harapkan belum tentu baik di sisi Allah. Terus terang aku belajar banyak dari kasus ini. Tentang harapan-harapan manusiawi yang tumbuh dalam hati, tentang 'urf (adat) dalam komunitas tarbiyah yang unik dalam masalah nikah, tentang pengambilan keputusan yang kadang benar kadang salah. Tentang ketegaran mengarungi masalah. Terima kasih Susan...Terima kasih sanusi...kau mengajari aku banyak hal... . Akupun pun minta maaf pada kalian, akibat keisenganku akhirnya muncul kisah seru ini..
____________
"Menurut Kamu sendiri bagaimana? Aku dan Susan baiknya lanjut apa ngga?" Suatu hari Sanusi menembakku dengan pertanyaan itu. Mmmm....aku jadi teringat, Sanusi sendiri pernah berkata, bahwa Allah itu Maha Membolak-balikan hati....Ahaa...itulah jawabanku...ya..Hari ini mungkin kita memutuskan A, tapi belum tentu esok. Betul ngga?! sambil kuberikan catatan tambahan, "kalau memang sesuai dengan koridor syar'i dan strategis bagi dakwah, kenapa tidak?!!".....:)
Aku tahu Sanusi akan memprotes jawabanku sambil berkata:"Lalu bagaimana dengan yang nomor urut 1.......????!!!"
::Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, maka....jadilah orang baik-baik dan terbaik::

© 2008 ...Meniti Tangga Dakwah......
Design by Templates4all
Converted to Blogger Template by BloggerTricks.com
2 comments:
Dasarrrrrrrrrrrrrrrrr
teknologi...walaupun bisa menunjang kelancaran da'wah, tetapi juga bisa menjadi bumerang bagi da'wah kalau sudah disalah-gunakan oleh para penggiatnya.ikhwan wa akhwat fillah... tarbiyah bukan hanya label fisik saja (jilbab lebar, celana congklang plus jenggot tipis)tetapi juga fikroh kita, suluk kita. berhati-hatilah akan tazyin syaithon
Post a Comment