...Meniti Tangga Dakwah......

Menuju era baru dalam dakwah...

Skandal...Sisi Lain Para Aktivis Tuesday, December 27, 2005

Aku sebenarnya ngga tega menuliskan hal ini, ya..., aku akan menulis sisi-sisi kemanusiaan yang juga berlaku di kalangan aktivis (wa bil khusus Aktivis Dakwah Kampus). Aku tergugah menuliskan hal ini setelah dalam catatan dakwahku menumpuk sejumlah kasus yang cukup membuat hati pilu. Bagaimana tidak,selama ini aku menganggap teman-temanku adalah orang yang 'sempurna':baik akhlaknya, tekun ibadahnya, sholih dan sholihah sifatnya...dan sejumlah reputasi baik lainnya, tapi sekarang aku menemukan fakta, bahwa teman-temanku yang aktivis itu ternyata juga manusia.

Kalau hanya satu dua kasus mungkin bisa aku katakan kasuistik, tapi ternyata...bukan hanya dua kasus....BUANYAAK. Sehingga aku menganggap ini gejala atau fenomena. Bukan sekedar fenomena, tapi fenomena gunung es. Wah Gawat.

Tapi terus terang, aku menulis ini agak dilematis juga. Disatu sisi aku ingin memberi tahu teman-temanku yang masih "bersih", bahwa ada banyak kasus yang terjadi pada teman-teman lain yang bisa kita jadikan pelajaran. Aku berharap teman-temanku--dan juga aku--tidak melakukan hal yang sama. Tapi disisi lain, aku tidak mau membuka aib saudaraku sendiri. Ya, karena informasi yang aku punya ini termasuk kategori TOP SECRET. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya--bahkan aku punya data primer yang aku dapatkan dari pelakunya. Tetapi secara umum dapat aku katakan bahwa hampir semua kasus memiliki modus operandi yang sama: cinta, syahwat dan disorientasi dakwah.

Ya, mungkin lebih baik aku nggak usah merinci secara detail kasusnya. Cukuplah hal ini kusampaikan pada ''pihak-pihak yang berwenang saja''. Aku juga punya sedikit keyakinan, mungkin banyak diantara pembaca juga memiliki informasi yang sama, jadi aku tak perlu lagi bercerita disini. Yang perlu diwaspadai adalah faktor-faktor penyebab apa yang bisa membuat kader bisa ''terjatuh'' seperti itu, bukan pada kronologis kasusnya. Kalau aku renungkan dan berdasarkan diskusi dengan beberapa teman, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab:

Pertama, Polutan hulu yang tak terselesaikan
Polutan Hulu??... istilah ini pertama aku dengar ketika diskusi dalam halaqohku masuk pada tema : pembahasan kader-kader bermasalah. Jauh sebelum seorang kader mengenal Tarbiyah, biasanya ia memiliki sifat atau kebiasaan buruk, seperti: sering pacaran, suka membangkang, malas, susah bekerjasama dan lain sebagainya. Seiring perjalanan Tarbiyah, seharusnya sifat-sifat tersebut bisa dihilangkan, meski sedikit demi sedikit. TETAPI, adakalanya sifat atau kebiasaan tersebut tidak bisa hilang, meski Tarbiyahnya sudah lama. Padahal seiring dengan lamanya Tarbiyah, ia harus siap memikul amanah dakwah yang lebih banyak. Akibatnya tidak ada keseimbangan antara kesiapan personal dan tuntutan dakwah di lapangan. Bisa dipastikan kader tersebut akan macet ditengah jalan ketika harus menyelesaikan pekerjaannya. Inilah akibat polutan hulu yang tak terselesaikan. Sebagai contoh ada seorang kader akhwat potensial, usia Tarbiyahnya sekitar 5 tahun-an. Oleh MR nya ia dipromosikan untuk bisa menambah amanah yang cukup strategis dan menantang--disamping amanah sebelumnya yang sudah ia jalankan. Ketika promosi akhirnya disetujui, ternyata akhwat tersebut malah macet di tengah jalan. Amanahnya jadi berantakan. Selidik punya selidik, ternyata sejak awal ada catatan Tarbiyah yang belum ia selesaikan: ia susah beramal jama'i dan setahun terakhir ini ia sudah kehilangan orientasi dakwahnya.

Kedua, Kultur Dakwah yang tidak nyaman
Banyak diantara kader dakwah yang mengeluh, bahwa di lapangan ternyata materi-materi Tarbiyah jarang diaplikasikan. Ukhuwah terasa garing, interaksi personal semakin renggang--boro-boro bisa itsar. Amal Jama'i hanyalah teori. Pengurus sibuk sendiri-sendiri. Profesionalisme tinggalah mimpi. Untuk bisa syuro tepat waktu saja sangat sulit sekali. Maka muncullah ungkapan: ternyata organisasi dakwah tidak lebih baik dari organisasi lainnya. Untuk kader-kader baru, jelas hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak aktif lagi dalam barisan dakwah. Jangankan kader baru, ada kader yang sudah Tarbiyah bertahun-tahun akhirnya keluar gara-gara merasa tidak nyaman lagi dengan dakwah ini.

Ketiga, Kurangnya Keterbukaan
Anda seorang Murobbi? anda punya binaan?....boleh jadi anda tidak tahu apa yang terjadi pada binaan anda sekarang. Lantas tiba-tiba anda dapat laporan, bahwa binaan anda terkena kasus yang memalukan. Nah..sekarang anda baru sibuk menyelesaikan kasus binaan anda.

Dalam program halaqoh, biasanya ada program (baramij) tentang pembahasan permasalahan-permasalahan (Qodloya) pribadi atau organisasi. Kasus di atas seharusnya tidak terjadi kalau baramij ini berjalan. Namun ada kalanya, program ini sering dilewatkan--atau bahkan tidak ada sama sekali-- seolah-olah tidak ada masalah apapun pada binaan. Para binaan kita berdalih bahwa ia merasa tidak nyaman mengungkapkan masalah pribadi pada forum halaqoh, hingga akhirnya ia memilih menyelesaikan sendiri permasalahannya. Atau justru ia malah curhat pada orang lain--yang menurut dia bisa dipercaya--yang bukan anggota halaqohnya. Ini sebenarnya sudah menyimpang dari konsep ideal halaqoh. Sejatinya halaqoh atau liqo adalah sebuah keluarga. Disinilah konsep ukhuwah dan itsar pertama kali diterapkan. Sesama anggota halaqoh sudah merasa sepenanggungan. Permasalah-permasalahan menyangkut personal, finansial, dakwah dan lainnya dibahas dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Sebenarnya masalah keterbukaan adalah masalah kepercayaan. Seseorang akan berani terbuka kalau dia percaya, bahwa persoalan dia dapat diselesaikan. Kalau menyangkut sesuatu yang amniyah (Rahasia), ia percaya rahasianya akan tetap aman. Jadi, kalau kader atau binaan kita sudah tidak terbuka di forum halaqohnya, atau ia juga tidak terbuka pada anda selaku MR nya, berarti sudah terjadi krisis kepercayaan pada anda dan halaqoh anda. Dan inilah titik awal persoalan.

Mungkin masih banyak faktor-faktor yang bisa menyebabkan seorang kader bisa terlibat "skandal" (bukan skandal jepit lho...), namum menurutku tiga faktor ini saja sudah cukup untuk membuat seorang kader terjerembab pada persoalan krusial.

Penyikapan masalah inipun beragam, ada diantara teman yang protes keras ke bagian kaderisasi; kenapa hal ini dibiarkan terjadi? ada yang tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi, ada yang cuek, ada yang mengejek, ada yang menganggap ini wajar sebagai konsekuensi fase dakwah sekarang, aku berhusnudzon bahwa mereka sebenarnya masih memiliki kepedulian terhadap dakwah ini. Aku juga memahamai beratnya kerja-kerja kaderisasi--karena aku juga pernah masuk dalam dunia ini. Aku juga tahu, kadang masalahnya ada di internal kaderisasinya atau di orang-orang kaderisasinya. Bisa juga para MR nya yang bermasalah.

Aku sendiri menganggap ini sebagai tantangan dakwah sekarang. Dan tantangan ini kujawab dengan hal-hal konkrit di lapangan, misalnya komitmen dengan jadwal Liqo, berupaya menyelesaikan amanah dakwah atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Meski pun secara jujur kuakui aku juga, akhir-akhir ini aku nggak optimal dalam menuntaskan pekerjaan, selidik punya selidik....ternyata aku juga bermasalah.... :D

Baiklah teman....sekarang kita berdo'a saja, semoga Allah senantiasa meringankan setiap masalah kita, melapangkan dada-dada kita, mempermudah urusan kita, dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita....Amiin.

Dan selanjutnya, mari kita bekerja dan berkarya nyata bersama.

MEMAKNAI PERJUANGAN : Refleksi Perjalanan Dakwah Kita Monday, December 26, 2005

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (Agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian....." (QS: Muhammad:7)

Seorang teman pernah mengeluh tentang kesibukannya yang luar biasa, sementara teman lainnya enggan untuk membantu pekerjaanya....

Banyak diantara pengurus dan akder yang merasa "garing" ketika beraktivitas di organisasi dakwah.....

Ada diantara staff yang merasa kecewa dan tidak puas terhadap pimpinannya... Rapat yang sudah dijadwalkan itu akhirnya harus bubar tanpa menyelesaikan permasalahan yang sudah diagendakan, banyak peserta rapat yang tidak hadir!!!

Itulah sedikit dari sekian banyak persoalan yang sering dialami oleh organisasi dakwah dan aktivisnya. Alih-alih bisa menjadi penerang bagi ummat, malah diri sendiri yang merasa "kegelapan" dan bingung dalam menuntaskan persoalan.

Bahwa dakwah itu memiliki keutamaan, ukhuwah itu menyimpan kekuatan, amal jama'i meringankan pekerjaan, seolah-olah menjadi omong kosong ketika dihadapkan pada qodhoya-qodhoya dakwah yang tak ada habisnya.

Lantas kita pun bertanya: apa yang salah dari semua ini?

Sementara aku sibuk merenung, tiba-tiba kudengar berita bahwa akh xx sudah mengundurkan diri dari barisan dakwah ini, ukhti yy sedang futur, bete katanya ikut kegiatan di LDK. Dan....barisan futur dan insilakh pun semakin panjang.....

Duhai...hatiku pilu mendengar semua itu.....

Akupun bergumam sendiri:"Berarti selama ini halaqoh, mabit, taujih dari para asatidz dan suplemen kaderisasi lainnya tak memberikan efek yang signifikan bagi kematangan tarbiyah kader?". "Berarti selama ini tarbiyah belum mampu membentuk pribadi yang tangguh. "Apa artinya profil kader yang kokoh dan mandiri?".

Aku mencoba menganalisa, ada apa dengan semua ini.
Pendekatan syiroh kucoba untuk memahami gejala dakwah ini, aku teringat saat Muhammad mendapat gelar Al Amin ketika berhasil menyelesaikan perselisihan antar suku dalam kasus pemindahan ka'bah, aku teringat perang badar, saat dimana umat Muhammad yang sedikit bisa mengalahkan musuh yang banyak, aku teringat Ka'ab bin Malik, walau dikucilkan selama lebih 40 hari ia tetap tahan menahan godaan dari raja ghousan, aku teringat perang shiffin, saat perselisihan antara Ali, Aisyah dan Muawiyah harus diselesaikan secara jantan.

Syiroh telah mengajarkan kepada kita, bahwa setiap permasalahan bisa diselesaikan, dan memang harus diselesaikan, meski penyelesaian itu mungkin pahit dan menyakitkan. Tribulasi dalam dakwah adalah sunnatullah, yang itu menjadi ladang amal bagi kita untuk berbuat kebaikan.

Bertahanlah teman...dan bekerjalah tanpa mengharap balasan...
Jika kau melihat teman yang lain berbuat kelalain, jangan dijadikan alasan untuk keluar dari barisan. Karena dakwah ini tidak salah, hanya mungkin kitalah yang gampang menyerah. Biarlah jika ada daun yang berguguran, kita harus menjadi dahan atau batang yang kokoh menjulang.

Ingatlah ketika Al Banna mengatakan:
Jika ada seribu orang yang berdakwah, maka aku salah satunya
Jika ada seratus orang yang berdakwah, maka aku diantaranya
Jika ada sepuluh orang yang berdakwah, maka aku termasuk di dalamnya
Dan Jika ada satu orang yang berdakwah, maka itulah aku..
Lalu jika tidak ada lagi yang berdakwah?
Kuberharap aku telah syahid saat itu...
Saatnya bekerja...teman..

ANDAI AKU MENJADI MURSYID 'AMM... Monday, December 26, 2005

Imajinasiku menerawang ke mesir era tahun 1950-an.
Saat itu Jamaah Al Ikhwan Al Muslimun masih belum mendapatkan mursyid baru untuk menggantikan Hasan AlBanna yang terbunuh bulan Februari 1949. Terjadilah perselisihan tentang siapa yang akan menggantikan posisi Al Banna. Kandidat yang waktu itu muncul ialah Syaikh Shalih Asymawi yang waktu itu menjabat sebagai wakil pimpinan jamaah, lalu ada Abdurrahman AlBanna saudara kandung Hasan Al Banna yang sangat dihormati, ada Abdul Halim Abidin yang menjabat sebagai sekretaris jamaah yang dikenal cerdas, dinamis, dan orator yang memukau. Ada pula Ahmad Hasan Al Baqury, Seorang syaikh Al Azhar yang dikenal dengan kecerdasan dan pengetahuan yang mendalam dan gaya bicaranya yang sastrawi. Semua itu adalah nominator-nominator Mursyid 'Amm. Untuk memilih calon tersebut terkadang terjadi perdebatan yang sengit, tapi kadang berjalan normal.

Akhirnya pada Desember 1950 terpilihlah aku menjadi mursyid yang kedua. Ya, aku terpilih sebagai mursyid 'amm menggantikan Al Banna. Lho kok aku yang dipilih? Menurut kalangan Majlis Tertinggi Ikhwan, pengangkatanku ini memiliki tiga pertimbangan utama. Pertama, aku dianggap figur akomodatif dan dinilai sebagai langkah kompromi terhadap pemerintah sehingga mengendurkan tekanan terhadap Ikhwan. Kedua, aku sebagai tokoh hukum yang disegani sehingga diharapkan mampu melakukan pembelaan terhadap para aktivis Ikhwan yang banyak dipenjara dan dalam proses peradilan. Ketiga, aku dinilai sebagai figur pemersatu yang bisa diterima banyak fihak. Selain itu mereka juga menilaiku sebagai sosok yang disiplin, berdedikasi tinggi, dan bersikap berani dan tegas dalam mengambil keputusan.

Pada awalnya aku menolak jabatan itu, karena merasa tidak mampu mengemban tugas berat tersebut. Dan aku juga bukan dari kalangan dekat imam mu'asis seperti halnya calon lainnya. Namun karena dukungan cukup kuat dari berbagai cabang ikhwan, aku akhirnya menerima jabatan ini.

Memang tidak gampang menggantikan posisi Al Banna di hati anggota Ikhwan. Seperti yang diungkapkan Khamis Hamdah,"Ikhwanul Muslimin dididik oleh Al Banna dan dialah Sang guru (Murobbi). Siapapun yang menggantikannya, harus mampu menggantikan perannya". Tentu ini bukan tuntutan yang mudah untuk dipenuhi.

Terbukti, sejenak setelah pengangkatanku, muncullah friksi yang mulai menggoyang kepemimpinanku. Mereka memandang pengangkatanku kontroversial, karena belum memenuhi persyaratan administratif yaitu masa keanggotaan di lajnah ta'sisiyah sekurang-kurangnya lima tahun. Aku juga dipandang kontroversial karena mengangkat mereka-mereka yang punya gelar ilmiah dalam bidang keduniaan menjadi angggota Maktab Irsyad. Tekanan lain muncul dari Nizhom Khos (NK) yang khawatir aku akan segera membubarkan organisasi khusus ini, atau merestrukturisasi karena aku mulai melihat adanya beberapa tindakan nizhom khos yang keliru.

Puncak konflik itu terjadi ketika 71 anggota Majlis Tertinggi Ikhwan menyampaikan mosi tidak percaya dan menuntut empat hal: Pertama, pembubaran Maktab irsyad, kedua, pembubaran semua cabang Ikhwan yang didirikan tiga tahun terakhir, ketiga pembatalan semua amandemen terakhir terhadap konstitusi Ikhwan dan keempat pembatalan tindakan terhadap para oposan. Saat itu beredar selebaran gelap yang ditandatangani oleh "Gerakan Ikhwan Merdeka" dan "Para pendukung Hasan Al Banna" yang disokong oleh Jamal Abdul Naseer. Mereka menuntutku mundur dari jabatan itu.

Aku harus menjawab tuduhan dan tuntutan itu dengan langkah pemecatan terhadap beberapa anggota--termasuk anggota lajnah ta'sis--setelah aku mendapatkan dukungan dari mayoritas anggota Maktab Irsyad. Aku memecat mereka bukan karena meragukan agama dan keluhuran akhlaq mereka. Mereka dipecat karena melanggar konstitusi jamaah. Kondisi seperti ini tidak akan membawa keuntungan bagi setiap jamaah, partai ataupun lembaga.

Suatu waktu, pimpinan Nizhom Khos, Abdurrahman Assindi beserta para anggota yang oposan pergi kerumahku, mereka mencabut kabel telepon rumahku dan memintaku turun dari jabatan Mursyid. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumahku dan menuju kantor Maktab Irsyad. Mereka mendudukinya. Mereka menutup dan mengunci kantor dengan rantai besi. Saat itu ust. Umar Tilmitsani mencoba mengatasi kemelut ini, dibantu ust. Abdul Aziz Jalal dilakukan perundingan via telepon. Barulah ketika menjelang subuh assindi beserta anak buahnya bersedia meningglkan kantor. Hampir saja terjadi pertikaian, karena ternyata di masjid Hasan Sulthon berkumpul sekelompok anggota Ikhwan yang bermaksud mengusir orang-orang Assindi yang sedang menduduki kantor. Tetapi Allah tidak menghendaki benturan sesama anggota Ikhwan. Setelah Assindi dan anak buahnya keluar dan meninggalkan Maktab Irsyad, barulah kelompok yang berkumpul di Masjid Hasan Sulthan ini tiba di kantor. Bentrokan pun tidak terjadi dan peristiwa itu bisa selesai dengan cara yang mudah.

Permasalahan Nizhom khos adalah batu sandungan dalam kepemimpinanku yang nyaris menenggelamkan jamaah ini. sebenarnya pembentukan NK ini memeiliki tujuan mulia. Tandzim ini dibentuk pada masa Muryid pertama sebagai landasan gagasan jihad melawan imperialisme dan despotisme pada dataran opersional. Melalui struktur yang rapi disiapkan sekelompok Ikhwan dengan pendidikan ideologis, politik dan militer, agar mereka mampu berjihad melawan musuh. Namun terjadi banayk penyimpangan pada kepemimpinan Assindi. Ia mulai berani mengambil kebijakan sendiri tanpa merujuk pada Dewan Pimpinan dan Mursyid 'Amm. Sejumlah tuduhan tindak kekerasan kemudian dialamatkan ke NK. Ishak Mussa Al Husaini mengatakan;" NK ini seperti serikat dalam serikat." Biro ini lebih sering mencapai tujuan dengan kekerasan ketimbang cara yang lebih beradab. Ia tampak bertentangan dengan berbagai ucapan tokoh ikhwan sendiri. Yang jelas, semenjak Tragedi Al mansyiah yang dialamatkan tuduhannya pada NK , biro ini telah ditutup untuk selama - lamanya.

Mungkin banyak yang terheran dan bertanya, kenapa jama'ah dakwah yang memiliki kekuatan manhaj dan matanah junud (Soliditas anggota) ini harus menanggung beban qodloya yang yang sangat berat. Bukan hanya tekanan eksternal yang begitu kuat, tapi juga problem internal yang cukup dahsyat. Aku masih terkenang saat Hasan Al Baquri akhirnya harus insilakh dari jamaah ini, ia lebih memilih menjadi menteri waqaf dalam kabinet Naser daripada patuh terhadap keputusan jamaah. Dalam Ikhwan, Al Baquri bukanlah kader biasa. Ia adalah murid langsung Hasan Al Banna. Al Baquri telah terlibat dalam halaqoh-halaqoh awal Ikhwan di Mesir. Ia memilih terlibat dengan Ikhwan yang saat itu masih kelompok dakwah kecil. Padahal ia adalah salah satu syaikh Al Azhar. Ia pun seorang penyair terkenal di Mesir. Ia juga terkenal rendah hati. Ketika kepemimpinan Ikhwan vakum sepeniggal Al Banna, Al Baquri adalah salah satu kandidat kuat yang dicalonkan, tetapi lelaki itu dengan ta'dzim memilih menolak mencalonkan diri dan menolak untuk dipilih kalaupun diminta. Sungguh ia adalah lelaki yang begitu rendah hati.

Oktober 1951, revolusi meledak. Sang pimpinan revolusi, Jamal Abdun Naser menjadi presiden. Jamal sendiri mengakui peran Ikhwan dalam revolusi itu sangat besar sekali, maka ia meminta Ikhwan untuk mendukungnya di pemerintahan. Selain Hasan Al Badhowi yang ia tunjuk secara khusus, ia minta dua orang anggota Ikhwan untuk menjadi menteri. Sebagai mursyid, aku menunjuk dua Ikhwan terbaik: Shalih Asmawi dan Abdul Hakim Abidin. Dua orang kuat yang pernah dicalonkan menjadi Mursyid 'Amm. Aku membutuhkan mereka untuk mengimbangi Abdun Naser. Mengimbangi? ya, mengimbangi Abdun Naser! Bashirohku mengatakan ada sesuatu yang salah dan berbahaya pada Abdun Naser.

Abdun Naser masuk dalam kelompok khusus dalam Janah Asykari yang dikenal dengan Nizhom Khos yang anggotanya di bai'at langsung oleh Al Banna. Janah Asykari dibentuk untuk melawan Inggris dan mengembalikan Palestina dalam pangkuan Islam. Tetapi..., sang pelatih--Abdun Naser--ternyata berfikir berbeda. Mimpi kecilnya untuk dapat menjadi pemimpin Mesir telah mengubah amanah di Janah Askary menjadi ambisi. Mengubah Nizhom Khos dari berloyalitas pada jama'ah menjadi kelompok yang ber-wala kepadanya. Untuk mewujudkan mimpimya: Mengambil Alih Mesir. Itulah yang kubaca pada Abdun Naser, maka kupilihlah Shalih Asmawi dan Abdul Hakim Abidin untuk mengimbanginya. Dan ternyata Abdun Naser menolak mereka. Ia menginginkan orang-orang yang mengikutinya, bukan yang mengaturnya. Maka ia menunjuk sang lelaki itu, Hasan Al Baquri, menjadi menteri waqaf. Jama'ah meminta Al Baquri menolak. Namun Al Baquri bersikeras menerimanya, akhirnya kuanggukan kepala dan membiarkannya pergi. Sekaligus mengijinkannya keluar dari Ikhwanul Muslimin.

Sejarah mencatat, dari empat tribulasi yang dialami Ikhwan, tiga diantaranya terjadi pada masa kepemimpinanku. Dan selama 23 tahun aku memimpin Ikhwan, 18 tahun aku lewatkan di penjara. Dalam penjara berbagai peristiwa teror mental dan fisik selalu menyertaiku, sampai aku berpulang menghadap Rabb ku pada 11 November 1973...................
---------------------------------------------------------------------------
Kututup buku yang berjudul "Al Ikhwan Al Muslimun: Bersama Mursyid 'Amm Kedua" itu. Aku tak sanggup lagi menjadi dirinya. Saat ini aku membayangkan wajah-wajah temanku yang lelah memikul amanah dakwah. Aku terbayang wajah Ahmad yang berupaya tegar memimpin UKMI dan SALAM. Aku terbayang wajah Arief yang kusut mengelola komisariat. Aku terbayang wajah Dodo yang banting tulang mempertahankan eksistensi KAMDA. Aku terbayang wajah Ust. Hendro yang berjuang sendirian di parlemen dan harus mengelola dakwah di Banyumas selaku ketua DPD. Aku juga terbayang Ust. Tifatul yang dengan senyum tulusnya berjuang keras mengokohkan dakwah ini. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan pada kalian. Semoga Amal baikmu adalah keikhlasan. Semoga kelelahanmu adalan jalan menuju Jannah yang kita cita-cita kan. Semoga Dakwah ini kokoh hingga akhir zaman. Dan... semoga kalian juga mendo'akanku untuk kebaikan. Amiiin.

(Refleksi atas buku "Al Ikhwan Al Muslimun: Bersama Mursyid 'Amm Kedua" karya Ust. Cahyadi Takariawan,S. apt. Sebagian bahan diambil dari Materi Diskusi yang ditulis oleh ust. Imron Rosyadi, ST. pada sebuah Daurah.)

INFO KULIAH UMUM LIBERALISASI ISLAM Sunday, December 25, 2005

Ikuti.....

DISKUSI PUBLIK DENGAN TOPIK:
LIBERALISASI ISLAM: KONSEPSI, AKAR SEJARAH DAN PENYEBARANNYA
Bersama: Adian Husaini, MA
(Kandidat Doktor Peradaban Islam ISTAC IIUM-Malaysia)
Hari/Tanggal : Sabtu/7 Januari 2006
Pukul : 12.30 s.d 15.00 WIB
Tempat : Masjid Nurul Ulum UNSOED-Purwokerto
GRATIS dan TERBUKA UNTUK UMUM
Penyelenggara:
Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) Cabang Purwokerto
Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Jend. Soedirman-Purwokerto
Contact Person:
1. UKKI Unsoed (0281)635292 ext.234--Bhayu Subrata
2. Aang Fahruroji, S.Si (081 519 519 099)
_________________________
Gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikumandangkan oleh kalangan Islam Liberal sangat membingungkan umat. Misalnya, tentang teologi inklusif-pluralis yang mendangkalkan akidah denagn mengaburkan dan menyamakan semua agama. Penolakan mereka terhadap syariat Islam yang mereka nilai memberangus kebebasan dan ''perang'' mereka terhadap kalangan yang mereka sebut sebagai ''Islam Fundamentalis'' karena mereka nilai berbahaya bagi proses demokratisasi. Semua isu dan cara berpikir mereka itu perlu diluruskan. Acara ini merupakan salah satu sarana taushiyah antarsesama muslim sehingga kita tidak menjadi orang yang merugi dan terhindar dari penyimpangan.
Adian Husaini,MA lahir 17 Desember 1965 di Bojonegoro, Jawa Timur. Kandidat doktor/Ph.D. bidang Islamic Civilization di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM). Aktif sebagai peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought dan Civilization, Kuala Lumpur. Buku-bukunya yang telah diterbitkan, antara lain Habibie, Soeharto, dan Islam, Jihad Osama verus Amerika, Penyesatan Opini, Mau Menang Sendiri: Israel Sang Teroris yang Pragmatif, dan Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya.

Kesaksian sang Perantara Friday, December 23, 2005

Hikmah di Balik Kisah
dengan Penceritaan Fiksi

Sedari awal memang aku agak khawatir, ada hal-hal buruk yang akan terjadi di belakang hari menyangkut tindakanku ini, soalnya ini menyangkut hal yang cukup sensitif, yang jika salah sedikit saja akan berakibat fatal. Semua berawal dari hobi baruku itu: chating on YM. Aku berfikir hobiku ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif semisal mencari relasi bisnis, sharing permasalahan, diskusi tematik, atau mengajak orang untuk mengenal lebih jauh tentang Islam.

Sampai suatu malam, ketika aku masuk ke sebuah chanel di YM, ada seseorang yang pv aku. Wah, ada mangsa empuk nih, fikirku saat itu. Dari nick nya aku tau dia seorang wanita....biar gampang sebut saja namanya susan..(bukan nama sebenarnya, tapi mirip...:) ) dia minta ASL ku, namun kutolak untuk sementara, aku pengen ngajak diskusi dulu, ASL bisa belakangan, begitu jawabku. Dia sepakat, lalu kutawarkan pilihan tema diskusi; pacaran menurut islam atau korupsi di Indonesia, sengaja kupilihkan tema ini karena mudah untuk dijadikan bahan nashrul fikroh. Dia memilih tema pertama, dan diskusi pun dimulai. Aku agak heran ketika dipertengahan diskusi aku melihat ada gelagat persamaan pandangan mengenai tema pacaran ini, dia mengatakan:"dalam kamusku ngga ada istilah pacaran". Dia juga mengatakan, pacaran itu boleh kalau sudah nikah. Diskusi pun berakhir dan tanpa kesimpulan. Wong opinine wis podo. Tapi saat itu aku menganggap bahwa lawan bicaraku adalah orang 'ammah (umum) yang bisa kujadikan lahan dakwah, makanya aku masukkan nick nya ke dalam group 'lahan dakwah' di YM ku.

Lalu dia menanyakan identitasku. Kujawab aja: "Aku Ikhwan!". Kujelaskan definisi ikhwan dan akhwat ketika dia menanyakannya. Sampai disini aku masih menganggap bahwa dia adalah orang biasa saja. Obrolan pun terus mengalir, dia cerita tentang adiknya yang mau 'melangkahinya', ya, adiknya mau nikah sebentar lagi, dan ini cukup membuatnya resah, bukan karena dilangkahinya, tapi omongan tetangga dan mitos itu yang bikin galau hatinya."Bener ga sih, kalau orang yang dilangkahi itu bakal jauh jodohnya?" begitu tanyanya.
Kujawab dengan teori ikhtiar dan ia pun dapat menerimanya, sampai akhirnya:" ya udah, kamu nikah aja duluan, repot amat!" begitu kataku."yee...kan belum ada calonnya, mo nikah gmn?" jawabnya.

DAN DARI SINILAH KISAH ITU DIMULAI.........

Saat itu aku teringat temanku yang katanya bulan depan punya azzam mau ta'aruf, maka....: "ada tuh temanku" tawarku saat itu.
"Siapa?".
"Teman..."
"Dimana dia sekarang?"
"jauh sih, di purwokerto"
"Mmhhh..ada biodatanya?
"Nanti deh...aku kirim..."
Obrolan pun ditutup dengan kesepakatan aku akan ngasih biodata temanku itu. Tapi....seriuskah aku? Terus terang aku sendiri meragukannya, karena aku juga meragukan keseriusan dia. Masa' mo nyari jodoh lewat internet? Aku sering diingatkan bahwa di internet itu sukar dibedakan antara orang serius atau tidak, antara orang baik atau orang jahat, namanya juga dunia maya, susah mengidentifikasinya. Jangan-jangan temen ngobrolku itu sebenarnya cowok yang lagi ngerjain aku...? Siapa tahu...

Esoknya aku cerita ke temenku yang mau ta' minta biodatanya..sebut saja Sanusi (bukan nama sebenarnya)
"San...ada yang minta dicariin suami...kamu mau nggak?"
"Hah,..siapa?"
"Teman cetingku.....kayaknya dia setengah akhwat...."
"Setengah akhwat....?....maksude...?"
"ya...katanya dia dulu pernah gaul sama anak-anak rohis...cuma sekarang ngga lagi...."
"Halah..., paling juga iseng..."
"Nggak, kayanya dia serius lho..."
"Ohya? trus....?"
"Kamu punya biodata kan?"
"Ada.., tapi biar gampang suruh buka blog-ku aja...disana kan ada profilku.."
"Oke deh...."
------------------------------------------------------------------------------------------
Singkat cerita....aku pun ngasih alamat blog sanusi ke susan, dan susan pun kemudian ngasih alamat friendster (FS) nya. Perlu dicatat saudara-saudara.......sampai disini sebenarnya aku masih menganggap ini nggak serius. Aku berfikir paling juga nanti ngga jadi. Meski ada juga terlintas fikiran, "Tapi kalo jadi gimana ya?". Nah akhirnya aku dan sanusi coba buka friendster nya susan, aku mulai penasaran siapa sebenarnya susan. Susah payah aku coba buka FS nya dia...ngga bisa kebuka juga. Aku coba kontak susan....nanyain address FS nya bener ngga. Dia jawab....bener ko'. Aku coba sekali lagi....tetep ngga bisa juga. Waduh gimana ya? kayaknya emang sanusi dan susan nggak jodoh kali ya. Sampai akhirnya kugunakan ilmu trial and error ku (dengan ilmu ini biasanya aku bisa bongkar password seseorang....he...he...meski sering ngga berhasilnya). Aku coba modifikasi sedikit alamat FS Susan. Eh......TERNYATA.......BISA!!!!. FS mulai loading.....dan.......jreng...muncul foto seorang wanita berjilbab besar..... beserta profilnya... Hah...Dia Seorang Akhwat beneran..!!! Lalu aku coba baca sekilas profilnya: dia seorang sekretaris di sebuah perusahaan garment, pernah tinggal di Solo, Wonogiri, Lampung dan sekarang di Jakarta. Satu lagi....dia suka track-trackan...(Kebut-kebutan di jalan raya pake motor). Kalau aku cermati profilnya dan bahasa yang digunakan pas ceting....aku jadi berfikir...paling ini akhwat kesing-nya doang. Makanya ngga salah kalo aku bilang dia setengah akhwat. Sanusi yang sedari tadi asyik cetingan di mIRC pun kuberi tahu bahwa FS susan sudah bisa kebuka, dia pun segera mencermati profilnya....
"Gimana San...??" tanyaku pada Sanusi.
"Ah...kayaknya ane ngga tertarik....biasa aja profilnya...."
"Masa' sih...?"
"Iya....ngga ada yang istimewa, tapi yaa.....ane sih menghargai ikhtiarnya...".
_________________________________________
Mengenai ketidaktertarikan sanusi pada susan sebenarnya sanusi sendiri sudah menyampaikan langsung pada susan....sampai suatu hari....Tuit...tuit...tuitt....ada bunyi sms masuk di hp-ku.... dari susan. Setelah kubuka sms nya....... aku kaget campur deg-degan...ternyata dia....
Dalam sms nya Susan mengabarkan, prihal prosesnya dengan sanusi itu sudah dikonsultasikan sama MUROBBIYAHNYA...dan MR nya itu menyarankan agar Proses yang mulia ini ditempuh sesuai prosedur yang benar. GUBRAKKK!! berarti dia anak tarbiyah juga dong!!
Kenapa susan ngga bilang dari dulu ya? kenapa dulu dia nanya-nanya apa itu ikhwan, apa itu akhwat..?? kenapa dulu pas aku iseng nawarin sanusi kok dia mau?
Sampai disini kekhawatiranku bertambah. Aku baru sadar, selama ini aku telah bermain api. Kalo aku ngga bisa menjinakkanya aku bisa kebakar nih! Apalagi MRnya susan minta no HP MRnya sanusi...wah....tambah berabe...
Aku dan sanusi mengadakan syuro terbatas membahas hal ini. Sanusi sendiri masih meragukan keseriusan Susan . Aku dan sanusi punya pandangan sama, kalau susan anak tarbiyah, kenapa susan mau menjalani proses ini? maksudnya ta'aruf lewat internet. kenapa baru cerita ke MR nya belakangan ini? Ketika hal ini kutanyakan pada Susan, dia menjawab: "Mungkin ini rencana Allah....". Hhmmm... jawaban yang betul sekali, tapi kurang tepat menurutku.

Permasalahan semakin ruwet, ketika Sanusi akhirnya berterus terang padaku, bahwa sebenarnya ia sudah merencanakan pernikahannya sejak lebih setaun yg lalu, bahkan ia telah merumuskan kriteria calon istri idamannya. Dan lebih hebat lagi..., dia sudah menginventarisir siapa saja yang masuk kriterianya. Dari yang nomor urut 1 sampai 10. Nah lho...! Bulan depan Sanusi bertekad merealisasikan Planing nya itu. Sampai kemudian hadirlah nama Susan. Inilah yang membuat Sanusi sedikit bimbang. Ia ingin menghargai ikhtiar yang dilakukan Susan, tapi ia sendiri sudah mantap dengan rencana bulan depannya.

Satu hari, Sanusi tiba-tiba mengajakku menemui MR nya. Ini terkait rencana bulan depan . Ia ceritakan semua rencananya pada Sang MR, termasuk hadirnya Susan. Aku masih ingat, reaksi pertama yang kulihat adalah keterkejutan di wajah Sang MR, lalu panjang lebar ia memaparkan tentang "tantangan rumah tangga" bagi seorang kader, bahwa persiapan itu bukan hanya niat yang menggebu-gebu atau azzam yang kuat. Pertimbangan yang bersifat realistis juga perlu difikirkan. Sanusi kena skak-ster ketika ditanya tentang kuliahnya yang belum rampung, tentang beban biaya yang harus ditanggung........"Sudahlah...,antum selesaikan aja dulu kuliahnya..." begitu kata Sang MR. Tapi dasar Sanusi yang berjiwa pemberontak, dia mencoba merasionalisasi keinginannya itu. Sampai akhirnya sang MR memberikan alternatif: Sanusi ditugaskan untuk "Studi Banding" ke teman-teman Sanusi yang masuk kategori praktisi nikah tapi masih kuliah dan minta nasihat para ustadz terhadap rencananya itu. Sanusi setuju. Sementara tentang Susan, sang MR dengan tegas berkata: Close!! (Duh...!!)

Susan sendiri sedang memantapkan hatinya dengan Istikhoroh, sampai ia mendapatkan keyakinan bahwa ia MANTAP UNTUK MELANGKAH. Lain halnya dengan Sanusi yang tampak masih diliputi bimbang, Istikhoroh yang ia lakukan berujung pada kemantapan bahwa ia HARUS MENUNDA RENCANANYA ITU. (Wahh....kok jadi ngga klop yach...!).

Sanusi menyampaikan secara langsung kepada MR Susan prihal saran dari MR Sanusi, dan Sanusi minta proses dengan Susan diakhiri. Beberapa hari berikutnya MR Susan menyampaikan pesan Sanusi pada Susan............

"Apakah kisah Sanusi-Susan akan berakhir sebelum tayang?" pertanyaan bernada pilu itu diajukan Susan padaku beberapa hari kemudian...Aku hanya menjawab "Wallahu A'lam.." seraya kuingatkan kembali kesepakatan awal, bahwa Susan harus sabar kalau seandainya proses ini hasilnya negatif.

Well.....
Inilah rencana Allah...terkadang apa yang kita harapkan belum tentu baik di sisi Allah. Terus terang aku belajar banyak dari kasus ini. Tentang harapan-harapan manusiawi yang tumbuh dalam hati, tentang 'urf (adat) dalam komunitas tarbiyah yang unik dalam masalah nikah, tentang pengambilan keputusan yang kadang benar kadang salah. Tentang ketegaran mengarungi masalah. Terima kasih Susan...Terima kasih sanusi...kau mengajari aku banyak hal... . Akupun pun minta maaf pada kalian, akibat keisenganku akhirnya muncul kisah seru ini..
____________

"Menurut Kamu sendiri bagaimana? Aku dan Susan baiknya lanjut apa ngga?" Suatu hari Sanusi menembakku dengan pertanyaan itu. Mmmm....aku jadi teringat, Sanusi sendiri pernah berkata, bahwa Allah itu Maha Membolak-balikan hati....Ahaa...itulah jawabanku...ya..Hari ini mungkin kita memutuskan A, tapi belum tentu esok. Betul ngga?! sambil kuberikan catatan tambahan, "kalau memang sesuai dengan koridor syar'i dan strategis bagi dakwah, kenapa tidak?!!".....:)
Aku tahu Sanusi akan memprotes jawabanku sambil berkata:"Lalu bagaimana dengan yang nomor urut 1.......????!!!"

::Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu juga sebaliknya, maka....jadilah orang baik-baik dan terbaik::

ANTARA YUSUF DAN AKU (Komentar untuk Outsider Loyal) Monday, December 19, 2005

Bismillahirahmanirrohim

Aku mengenal yusuf ketika dia tiba-tiba terpilih menjadi ketua KAMMI komisariat soedirman. Ya, tiba-tiba saja ia muncul. karena seminggu sebelumnya aku mengikuti Musyawarah Komisariat (Muskom) bukan dia yang terpilih jadi ketua, tapi Fuad. Ternyata ada kesalahan prosedural. sehingga pengangkatan Fuad jadi ketua komisariat BATAL DEMI MANHAJ. dalam juklak komisariat memang disebutkan ketua komisariat minimal AB 2. Fuad masih AB satu,dan belum lama masuk KAMMI, sehingga diputuskan untuk Muskom luar biasa untuk mengganti ketua yang sesuai manhaj. Terpilihlah Yusuf.

Setelah itu, tidak banyak interaksi antara aku dan yusuf, saat itu aku memang belum jadi pengurus komisariat dan sibuk ngurus UKI (unit kerohanian Islam)fak biologi dan takmir masjid fatimatuzzahra. Aku mengenal yusuf lebih jauh ketika harus pindah ke sekre, karena aku sudah tidak nyaman tinggal di masjid.Diintrik terus sih. saat itu yusuf sebagai kepala rumah tangga Madani,nama sekre sekaligus kos anak KAMMI. saat itulah aku menemukan sosok yusuf yang sebenarnya.

Karakter kuat yang aku temukan adalah INDEPENDENT, yusuf punya mainstream berfikir yang mandiri, tidak mudah diintervensi, bahkan oleh Murobbinya sendiri. Dalam sejarah tarbiyah purwokerto, mungkin hanya Yusuf yang berani "memecat" MR nya sendiri, karena tidak sesuai dengan harapan-harapan yusuf dalam mentarbiyah muttarobi.

Independensi yusuf semakin kental ketika isu pemilu 2004 mulai di gulirkan. Banyak diantara aktivis tarbiyah yang sudah mensosialisasikan partainya,PK yang kemudian menjadi PKS. Saat itulah Yusuf memproklamirkan diri, bahwa ia adalah kader tarbiyah, tetapi BUKAN kader PKS.

Yusuf ternyata punya parameter sendiri untuk menilai sebuah partai, bahwa partai politik itu harus diisi oleh orang-orang yang capable dalam politik dan cerdas dalam menyikapi isu-isu nasional atau lokal. Dan itulah yang menurut Yusuf tidak ada di PKS. PKS itu: "isine mung ustadz tok", begitu kata Yusuf.

Ketika isu musyarokah digulirkan PKS, yang berdampak pada melonjaknya mobilitas vertikal kader di wilayah birokrasi, itu yang menjadi ladang empuk bagi yusuf untuk mengkritik PKS habis-habisan."Apa bedanya PKS dengan partai lainnya?" ujar Yusuf. Apalagi ada beberapa kasus yang menimpa kader PKS yang berada di eksekutif atau legislatif terkait tuduhan KKN.

Tidak sampai disini,indepedensi yusuf merambah pada hal-hal yang menjadi fatsoen tarbiyah. Yusuf penentang keras intervensi MR dalam hal pernikahan kader. "Mau nikah aja kok dipersulit", begitu katanya."Dulu pas zaman Rosul,ngga ada ceritanya nikah lewat MR, klo mo nikah langsung aja ketemu calon mertua" demikian argumen yusuf.

Yusuf juga mengkritik DPP yang menganjuran kader-kader untuk masuk pada level birokrasi dengan mengikuti CPNS,"masalah pekerjaan, biarlah kader-kader yang memilihnya, ngga usah diarahkan harus menjadi Pegawai Negeri", kata yusuf.

Yusuf pernah cerita, walaupun ia sering melontarkan kritik terhadap PKS, dan tidak mau disebut kader PKS, tapi ia masih tetap kader tarbiyah.Ya, begitulah yusuf. Dia memang masih berharap liqo nya tetap jalan, meski hampir setahun ini,ketika yusuf harus cuti dan bekerja di jakarta, ia tidak liqo karena koordinasi MR nya yang kurang intens dengan MR Yusuf di jakarta. Yusuf merasa diterlantarkan.

Selama ini Yusuf memang mengambil positioning sebagai "orang luar" PKS, tetapi ia ingin tetap sebagai kader tarbiyah. Dan ia ingin konsisten mengambil jalan ini. Kalau Hasan Al Banna pernah berkata: boleh jadi ada seseorang atau sekelompok orang yang mengaku bagian dari jamaah kita, tetapi sesungguhnya ia bukan anggota jamaah. Tetapi ada juga seseorang atau sekelompok orang yang itu berada di luar jamaah kita, tapi sesungguhnya ia bagian dari jamaah kita. Aku tidak tahu, yusuf masuk kategori mana?
yang pertama atau yang kedua?. Untuknya aku membuat predikat khusus,Outsider Loyal. ya, karena dia masih Loyal terhadap tarbiyah, tapi tidak untuk PKS.

Aku sendiri punya komentar khusus tentang Yusuf. aku menduga ada beberapa hal yang MUNGKIN masih belum difahami yusuf,
Pertama, logika keta'atan terhadap syuro
sebagaimana diketahui, berdirinya wajihah partai di indonesia merupakan hasil syuro para mu'asis dakwah berdasarkan hasil poling seluruh kader tarbiyah saat itu. Hasil poling menunjukkan 60 % lebih setuju berdirinya partai, sisanya tidak setuju dan abstain,jadi antara yang setuju dan yang tidak, bedanya tipis sekali. Majlis Syuro akhirnya memutuskan berdirinya partai dakwah ini. Namun sesuai dengan kaidah keta'atan terhadap syuro, ketika keputusan sudah diambil maka seluruh anggota harus menghormati dan menta'ati keputusan tersebut. Konon kabarnya, Ust. Anis Matta adalah termasuk orang yang tidak setuju berdirinya wajihah partai, toh sampai sekarang beliau masih menjadi pengurus pusat. Aku ngga tahu, apakah Yusuf saat itu ikut poling atau tidak, karena yusuf sendiri sudah tarbiyah sejak SMP,katanya. Tetapi sebenarnya, ikut poling atau tidak, kalau memang dia kader tarbiyah, harusnya ta'at terhadap keputusan majlis syuro. Itu menurutku.

Kedua, kaidah Al-hizbu huwal jama'ah, wal jama'atu hiyal hizb
Bahwa partai adalah jama'ah dan jama'ah adalah partai. Ketika belum berdiri partai, jama'ah tarbiyah mengorganisir dirinya melalui struktur (tandzim) yang relatif tertutup. Masalah keanggotaan, struktur organisasi, agenda dakwah dll hampir semua bersifat ekslusive. Ketika partai berdiri, maka seluruh flatform jama'ah ditransformasikan dalam wadah partai. Artinya, kalau kita bicara tentang jama'ah tarbiyah di indonesia, ya tidak lain adalah PKS. Siapa PKS? ya.. jama'ah tarbiyah di indonesia. Pada kondisi ini, jama'ah sudah bersifat lebih terbuka, keanggotaanya, struktur organisasinya dan agenda dakwahnya. Sehingga, agak sulit memahami jalan fikiran Yusuf ketika ia mengatakan 'aku kader tarbiyah, tapi bukan kader PKS'.
Jama'ah tarbiyah membuat partai, itu keniscayaan. Adapun partainya belum sesuai harapan itu urusan lain. Justru kadernya yang harus memperbaikinya.

Tentang nikah via MR, aku punya pandangan seperti ini,
bahwa dalam marotibul amal, setelah bina'-syakhsiyah islamiyah, maka berikutnya adalah binaul 'usrah, membangun keluarga. membangun dalam arti menyiapkan dan mendidik individu agar mampu mengelola keluarga dengan prinsip-prinsip islam. Pernikahan bagi kader dakwah bukan hanya sekedar ibadah, tapi strategi optimalisasi dakwah. Jadi, nikah bagi kader itu harus bersifat strategis. Seperti halnya rosul dan para sahabat dulu juga begitu. Rosulullah menikahi istri-istrinya selalu ada pertimbangan strategis bagi kemashlahatan dakwah. Pelajaran syiroh ini diinterpretasikan oleh jamaah dengan menyusun manhaj munakahat. Perlu difahami bahwa manhaj munakahat ini tidak berisi hal2 yg wajib, makruh, atau sunnah. karena itu semua sudah diatur oleh syar'i. Manhaj munakahat ini hanya untuk memastikan bahwa pernikahan kader ssudah sesuai syar'i dan strategis bagi dakwah. Analoginya begini, secara syar'i nikah itu sudah sah dengan menghadirkan saksi, wali dan ijab qobul. Tapi selaku warganegara yang baik, kita mendaftarkan pernikahan di KUA, lalu ada petugas yang datang mencatanya. bagaiamana kalau kita tidak mendaftarkan ke KUA?, ya tetap sah secara syar'i, tidak dosa. hanya kita sudah mengabaikan kewajiban kita selaku warga negara. Menurutku, sebagai gerakan yang punya tahap-tahapan dalam manhajnya, manajemen munakahat bagi jamaah adalah sebuah keniscayaan, bagaimana jamaah bisa mengukur: sejauh mana tahapan binaul usroh sudah tercapai? kalau tidak ada perhatian terhadap hal ini. Perhatian jamaah terhadap keluarga, sama pentingnya seperti pada tahap pembentukan individu atau pengelolaan negara, kelak. Bayangkan kalau jamaah tidak mengaturnya, maka percuma saja manhaj gerakan yang telah disusun. Kader-kader nikah sak karepe dhewek tanpa mempertimbangkan aspek mashlahat dan strategis bagi dakwah.
(Ini pendapatku lho, walaupun waku sendiri belum bisa menjamin, apakah nanti pernikahanku bisa strategis atau nggak? he...he..he...setidaknya aku akan mengupayakanya:)

Implementasi manhaj munakahat ini memang beragam di setiap wilayah. Ada yang harus membuat struktur khusus yang menangani hal ini (tandzim munakahat),semacam BKKBS, ada juga yang tidak. Menurut yusuf, di mesir aja ngga ada aturan mengenai munakahat. Menurutku ada beberapa pertimbangan kondisional yang mengharuskan struktur dakwah membuat tandzim munakahat atau tidak, diantaranya: sebarapa banyak kader terbina, seberapa banyak masalah pernikahan kader, sejauhmana pemahaman kader terhadap pernikahan dsb. Semakin banyak kader, semakin kecil masalah pernikahan kader dan semakin faham kader terhadap proses dan urgensi pernikahan,MAKA semakin kecil peran jamaah dalam mengatur proses pernikahan.Namun pada prinsipnya jamaah tetap memberikan perhatian dalam proses ini,setidaknya pelibatan MR dalam proses pernikahan kadernya.Lho kok kenapa MR harus dilibatkan? Sekali lagi, ini untuk memastikan proses pernikahan kader sudah sesuai syar'i dan strategis atau tidak? karena pertimbangan strategis itu tidak bisa subjektif ditentukan oleh kader yang mau nikah saja, jamaah sendiri terkadang punya proyeksi sendiri terhadap karir dakwah kadernya,sehingga ketika kader tersebut menikah, harus dipastikan akan membawa maslahat terhadap karir dakwahnya. Dalam pelaksanaannya aturan ini tidak saklek, masih dimungkinkan adanya negosiasi dan diskusi antara harapan dan keinginan kader dengan MR nya. Bagaimana kalau diabaikan saja peran MR dalam proses ini? secara syar'i nikahnya tetap sah, hanya sebagai kader dia telah mengabaikan kewajibannya terhadap jama'ah. Begitu.

Semua yang telah aku sampaikan di atas, sebenarnya hanya dapat difahami oleh kader yang menyadari konsekuensi kehidupan berjamaah, bahwa ketika kita sudah berkomitmen untuk berjuang bersama dalam satu jamaah, maka ada banyak sisi privacy kita yang akan tereliminir. Jenjang kaderisasi dalam tarbiyah pun senantiasa mempertimbangkan kesanggupan kader untuk berkomitmen dalam jama'ah. Semakin tinggi jenjang kader, maka semakin besar tuntutan jama'ah bagi kader tersebut. Jadi tingginya jenjang kader bukan berarti tingginya kemuliaan. Kalau ada kader yang tidak ingin privacy nya diusik oleh jama'ah, sebaiknya memikir ulang untuk apa dia berjamaah. Seperti halnya sholat, berjamaah itu memang ngga bisa secara leluasa menentukan gerak-gerik kita. Dan tidak ada paksaan untuk masuk jama'ah. Tetapi ingat, sholat berjamaah itu pahalanya lebih besar daripada sholat sendirian. 'Alaikum bil jama'ah. Lalu bagaimana dengan beragam potensi yang dimiliki kader? apakah jama'ah akan mengeliminir juga? tentu tidak, melalui syuro seluruh potensi tersebut akan disinergiskan. walaupun pada akhirnya setelah ada keputusan mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Wallahu a'lamu bishshowab.

DESEMBER DI PURWOKERTO Saturday, December 03, 2005

Begitulah,
satu per satu mereka kuhubungi,teman-teman di KAMMI, MSK AKSTIKPER, pak wid dan....
kepala keluargaku, kusampaikan pada mereka:
saya mau pamit...
terima kasih...
mohon maaf....
semoga tali silaturohim tetap terjaga.