

...Meniti Tangga Dakwah......
Menuju era baru dalam dakwah...
| MENJAGA AMNIYYAH (Sense Of Secret) | Wednesday, September 19, 2007 |
|
comments (0)
Filed under:
|
|
Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar di bawah komando Rosululloh tak lepas dari peran-peran intelejen dan keteguhan menjaga rahasia yang dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabat. Betapa berharganya data dan informasi saat itu sampai Rosululloh beberapa kali mengutus sahabat untuk melakukan pengintaian, penyusupan dan penggalian informasi, begitu juga Abu Sufyan yang memimpin pasukan Quraisy melakukan hal yang sama untuk mengukur kekuatan kaum muslimin. Data dan informasi tersebut kemudian diolah untuk menentukan strategi apa yang harus dijalankan agar kemenangan dapat diraih. Berkat kecerdikan Rosululloh dalam mengolah data, mengkoordinasikan pasukan dan komando yang jelas maka perang Badar pun dimenangkan kaum muslimin.
Dakwah kita hari ini harus bercermin pada apa yang pernah dicontohkan Rosulullah. Dalam buku Manhaj Haraky dikenal istilah Sirriyatu Tandzim wa Jahriyatu Dakwah. Yaitu strategi penataan yang dirahasiakan tetapi produk seruan dakwah yang terbuka dan terang-terangan. Ketika Rosulullah SAW hijrah ke Madinah maka kerahasiaan penataan Dakwah tetap dijaga. Terutama dari golongan munafik dan Yahudi.
Seorang kader hendaknya menguasai keterampilan intelejen yang meliputi: teknik pengintaian, pengumpulan informasi, menjaga rahasia (amniyyah), menerapkan strategi aksi sampai akhirnya memenangkan pertarurangan. Amniyyah adalah memberikan jaminan keselamatan terhadap gerakan Islam dari segala hal yang membahayakan, baik yang timbul dari individu, kelompok atau dari pemerintahan yang dzolim. Adanya kerahasiaan dalam sebuah pergerakan dakwah adalah hal yang mutlak. Tidak semua hal dapat dipubikasikan ke masyarakat. Selain karena kondisi pemahaman masyarakat yang masih terbatas, faktor musuh-musuh dakwah juga harus mendapat perhatian. Aktivitas penyerapan informasi dan rencana aksi yang dijalankan menuntut nilai amniyyah yang sangat besar. Sekali terbongkar, maka gagallah semua rencana dan target. Namun jika ia terjaga maka strategi menghadapi makar musuh dapat dilakukan. Dengan demikian keselamatan gerakan dan pelaku dakwah tetap terjamin.
Secara umum Amniyyah dapat dibagi dalam dua hal. Pertama, amniyyah yang menyangkut struktur dakwah. Suatu hari Ust. Tifatul pernah ditanya oleh para wartawan, ”ustadz, strategi apa yang akan dijalankan PKS untuk memenangkan Pemilu 2009?”. ”wah, kalo strategi diumumkan sekarang, ketauan dong sama partai lain...” begitu jawab Ust.Tifatul. Ini adalah contoh bagaimana kita harus merahasiakan hal-hal yang terkait kebijakan struktur dakwah. Seorang kader, apalagi pengurus, harus mampu mengamankan data-data penting, strategi aksi, dan kondisi internal struktur agar tidak bocor kepada pihak lain. Kalau sampai bocor, akan sangat mudah bagi musuh membaca peta kekuatan kita dan mengalahkan kita.
Kedua, amniyyah yang menyangkut pribadi kader dakwah. Seorang akhwat pernah mengeluh, ketika apa yang selama ini menjadi persoalan pribadinya tiba-tiba sudah menjadi isu publik. Seorang kader pelaku dakwah tentu memiliki berbagai persoalan pribadi, baik yang berhubungan dengan keluarga, keuangan, pekerjaan dan lainnya. Jika hal itu menjadi rahasia pribadinya, maka tentu tidak etis jika hal itu disebarluaskan. Ketika rahasia pribadi sudah terbuka, maka akan melemahkan izzah (harga diri) dan kepercayaan diri yang bersangkutan. Secara langsung akan berdampak pada kinerja dakwahnya, bahkan sangat mungkin akan menyebabkan futhur (turunnya semangat berdakwah) dan insilakh (keluarnya seorang kader dari barisan dakwah). Naudzu billahi min dzalik.
| Ketika Kepemimpinan Langit Harus Dibumikan | Friday, April 27, 2007 |
|
Filed under:
|
|
(Resensi Buku Membumikan Kepemimpinan Langit:
Panduan Memilih Pemimpin yang Islami karya M. Ridwan Yahya, Lc)
Dalam khazanah Islam term kepemimpinan banyak termuat dalam Kitab Suci Al-Quran dan Al-Hadits. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keteraturan dalam kehidupan manusia. Allah SWT memberikan mandat kepemimpinan (Khalifah) kepada manusia yang tercantum dalam Q.S Al Baqoroh:30. Pemimpin dinamakan khalifah oleh karena ia seakan-akan “pengganti” Allah di muka bumi. Dialah yang menjadi “penyambung lidah” langit di muka bumi. Dialah yang mempertemukan antara al-iradah al-ilahiyah (kehendak ketuhanan) dan al-iradah al-basyariah (kehendak dan aspirasi manusia).
Ibnu Taimiyah berkata, bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kewajiban agama. Agama tidak akan tegak tanpa kepemimpinan. Manusia tidak akan sempurna kemashlahatannya kecuali dengan persatuan, karena mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain. Dan persatuan itu mutlak harus ada pemimpin yang mengelolanya.
Lebih jelas lagi Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah mengarahkan semua orang sesuai dengan konsep syari’at demi kebaikan dunia dan akhirat mereka. Menurut pandangan pembuat syari’at, seluruh kepentingan duniawi harus dinilai dengan kepentingan ukhrawi. Kekuasaan itu pada dasarnya merupakan pengganti dari pemilik legalisasi (Allah) untuk menjaga agama dan melindungi kepentingan dunia.
M. Ridwan Yahya dalam buku Membumikan Kepemimpinan Langit: Panduang Memilih Pemimpin yang Islami menguraikan lebih detail tentang makna dan hakikat kepemimpinan dalam Islam. Pada bagian awal buku ini banyak dijelaskan landasan teologis kepemimpinan dalam perspektif Islam dengan menukil ayat-ayat dan hadits yang terkait dengan kepemimpinan. Dalam bahasa penulis diistilahkan dengan kepemimpinan langit. Landasan normatif dalam Al-Quran dan Hadits oleh penulis dicoba untuk di visualisasikan dengan merekam ulang jejak kepemimpinan Rasulullah dan para khulafaur-rasyidin dalam mengelola pemerintahan Islam saat itu. Kita akan menemukan kesesuaian antara kehendak Ilahiyah yang tertuang dalam kitabullah dengan kehendak manusia yang tercermin dalam pribadi Rosulullah dan para sahabat.
Dalam buku ini banyak dimuat tentang kriteria memilih pemimpin dan contoh-contoh perilaku pemimpin yang patut menjadi panutan dan dipraktekkan oleh para pemimpin bangsa kita sekarang ini. Semangat dan ruh buku ini sangat relevan untuk dihidupkan kembali pada era pemerintahan kita sekarang ini, mengingat banyaknya praktek, kebijakan dan perilaku para pemimpin sudah berada di titik nadir. Buku ini sangat tepat untuk menjadi semacam panduan untuk bisa memilih dan memilah pemimpin bangsa di era mendatang, *AF*

© 2008 ...Meniti Tangga Dakwah......
Design by Templates4all
Converted to Blogger Template by BloggerTricks.com